Tahun baru 2017 telah tiba. Inilah tahun yang penuh harapan dan asa. Tahun harapan akan kebangkitan umat dan bangsa Indonesia. Tengoklah, semarak zikir akbar di berbagai kota dan pelosok di Tanah Air bergema menyambut datangnya tahun baru dengan penuh asa. Bukankah ini sebuah pertanda?
Beragam peristiwa yang terjadi sepanjang 2016 hendaknya menjadi pelajaran bagi seluruh anak bangsa. Lanjutkan capaian emas yang telah ditorehkan dan perbaiki beragam kegagalan agar tak terulang pada tahun ini. Tantangan yang akan dihadapi pada tahun 2017 tidaklah mudah. Tetapi, jika semua elemen bangsa bersatu bergandeng tangan, niscaya tantangan itu bukanlah masalah.
Maka, sudahilah segala kegaduhan yang telah menguras energi bangsa ini seperti yang telah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2017 harus menjadi momentum bagi bangsa ini untuk meloncat dan melesat. Bangsa ini tak mungkin bisa melakukan lompatan jika masih saja terbelit aneka kegaduhan di berbagai lini kehidupan. Pilihan ada di tangan seluruh anak bangsa; maju atau malah terpuruk pada 2017 ini.
Bersatunya umat dalam Aksi Bela Islam 411 dan Aksi Super Damai 212 menjadi modal bagi kebangkitan umat Islam di Indonesia. Apalagi, muncul gerakan shalat Subuh berjamaah di berbagai daerah di Tanah Air. Tak hanya itu, umat Islam pun mulai memiliki kesadaran untuk membangun ekonomi. Kesadaran ini harus terus dirawat dan dijaga. Hanya dengan bersatu, umat Islam bisa bangkit dengan menguasai ekonomi serta media.
Seruan "Indonesia Ikhlas" yang digelorakan para ulama dan tokoh masyarakat pada Dzikir Nasional Republika di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta adalah kunci persatuan dan kebangkitan umat. Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyatakan, ikhlas merupakan penggerak dan penentu hitam putihnya perbuatan.
Menurutnya, keikhlasan kolektif sebagai energi ruhani harus menjadi kekuatan potensial dan aktual yang menyuburkan kebenaran, kebaikan, dan segala keutamaan hidup di tubuh umat dan bangsa tercinta. Dalam keragaman agama, suku, ras, dan golongan yang membentuk satu Indonesia, setiap warga bangsa harus mau ikhlas menerima keberbedaan dan kesamaan secara autentik. Hidup dalam kebersamaan dengan adil dan bermartabat, satu sama lain saling mengakui keberadaan dan ikhlas saling bersaudara sebangsa.
Kebangkitan umat adalah modal bagi kejayaan bangsa Indonesia. Bukan hanya karena umat Islam adalah mayoritas di negeri ini. Lebih dari itu, umat Islam akan selalu menjadi benteng penjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena itu, pemerintah harus selalu membantu dan merangkul umat Islam. Jangan pernah meminggirkan atau melupakannya.
Tahun 2017 juga merupakan tahun bagi pemerintahan Jokowi-JK untuk mewujudkan janji-janji kampanyenya. Ini adalah tahun ketiga bagi Kabinet Kerja untuk mewujudkan slogannya "Kerja, Kerja, Kerja." Beragam tantangan dan target harus diselesaikan dan dituntaskan. Ya, pekerjaan rumah pemerintah Jokowi-JK masih begitu banyak.
Masih tingginya angka kemiskinan, masih banyaknya pengangguran, rendahnya tingkat pendidikan, masih buruknya infrastruktur, tingginya kasus korupsi, rendahnya capaian pajak, penegakan hukum yang dinilai masih belum adil merupakan pekerjaan rumah yang harus terus diselesaikan dan dituntaskan pemerintah.
Tahun 2017 adalah saatnya bagi pemerintah fokus untuk mewujudkan janji-janji politiknya. Tahun 2018, suhu politik nasional diperkirakan sudah mulai memanas lagi dengan isu-isu politik jelang pemilihan umum.
Tentu saja pemerintah tak bisa bergerak sendiri untuk menyelesaikan masalah bangsa yang begitu besar. Maka, rangkullah ormas-ormas Islam untuk membantu program-program pemerintah. Dengan bergerak bersama, semua tantangan dan beban berat akan terasa ringan. Hanya dengan bersatu bangsa ini bisa menjadi kuat. Dengan "Indonesia Ikhlas", mari sambut Tahun 2017 dengan penuh optimisme.