Senin 02 Jan 2017 14:15 WIB

Kedepankan Ikhlas untuk Bangsa

Red:

Masyarakat Indonesia, termasuk di dalamnya umat Islam, harus ikhlas dengan kebinekaan yang ada. Sebab, Indonesia merupakan negara majemuk, terdiri atas beragam suku bangsa, agama, dan golongan.

"Oleh karena itu, kita harus menjaga kemajemukan dengan ikhlas," ujar Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin pada rangkaian acara Dzikir Nasional Republika 2016 yang dipusatkan di Masjid At-Tin, Jakarta, Sabtu (31/12).

Menurut dia, apabila agama-agama lain di Indonesia mengembangkan agamanya, umat Islam harus ikhlas. Begitu pun sebaliknya.

Untuk itu, Ma'ruf mengatakan, penguatan akidah yang dilakukan ulama jangan sampai dinilai sebagai gerakan Islamisasi. Penilaian itu bisa dikatakan sebagai sikap tidak menghormati kebinekaan.

"Jika seperti itu (dianggap Islamisasi), namanya tidak ikhlas (dengan kebinekaan dan kemajemukan)," kata Ma'ruf.

Ia pun mengimbau agar umat Islam harus bersatu dan bangkit dalam segala hal menyongsong tahun yang baru. Penyiapan sumber daya manusia dapat menjadi penunjang persatuan dan kebangkitan Islam.

"Oleh karena itu, umat Islam harus menyiapkan diri, menyiapkan ekonomi, pendidikan, dan menyiapkan diri menghadapi gempuran sosial budaya yang destruktif," ujar Ma'ruf.

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Hidayat Nur Wahid mengatakan, dalam konteks bernegara, masyarakat Indonesia harus ikhlas dengan Pancasila sebagai dasar negara. Hidayat pun memberi contoh dengan adanya keikhlasan menjalankan sila pertama Pancasila, Ketuhanan yang Maha Esa.

"Kalau kita ikhlas menerima Ketuhanan yang Maha Esa, maka orientasi hidup kita adalah orientasi yang menghadirkan moralitas yang tinggi, komitmen tidak korupsi, dan menghadirkan komitmen berbangsa dan bernegara yang menolak segala yang bertentangan dengan Ketuhanan yang Maha Esa," kata Hidayat.

Dalam kehidupan bernegara, masyarakat merupakan pemegang kedaulatan tertinggi. Oleh karena itu, dia mengingatkan masyarakat agar tidak golput dan acuh terhadap beragam peristiwa yang terjadi di Indonesia.

"Ikhlas sebagai bangsa Indonesia artinya adalah menjadi bangsa berdaulat, bermartabat, dan menghadirkan kebaikan-kebaikan," ujar Hidayat.

Mantan ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD menjelaskan, keberadaan Indonesia sebagai sebuah bangsa tidak lepas dari andil keikhlasan para pejuang. Sebab, tidak ada pemaksaan bahwa Indonesia harus menjadi negara Islam.

"Karena itu, negara ini harus dijaga. Indonesia yang ikhlas adalah Indonesia yang menghendaki ketulusan kita untuk membangun bangsa dan negara ini secara bersama-sama penuh keikhlasan dalam rangka mengharap ridha Allah SWT," kata Mahfud.

Oleh karena itu, dia pun mengajak seluruh masyarakat, termasuk umat Islam, untuk membangun Indonesia yang ikhlas. Semua itu dapat dimulai dari keikhlasan dalam diri masing-masing orang.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menilai, nilai-nilai ikhlas selaras dengan kondisi terkini kebangsaan dan keumatan. Ini ditandai dengan timbulnya gejala rasa saling curiga, bahkan saling tidak suka.

"Energi ikhlas itu akan mendorong orang berbuat ihsan," ujar Haedar.

Ia menilai, pada tahun ini Indonesia perlu menanamkan semangat dan sikap ikhlas. Dengan begitu, semua pihak akan terdorong untuk melakukan kebaikan yang maslahatnya melampaui batas-batas golongan, bukan hanya sesama Muslim, melainkan juga seluruh umat manusia.

"Ketika kita ikhlas dalam berjuang, berbangsa, hidup dalam relasi umat manusia dan semesta, maka semua (perilaku) menjadi panggilan hati karena Allah SWT bersama kita," kata Haedar. rep: Hasanul Rizqa, Reja Irfa Widodo  Neni Ridarineni ed: Muhammad Iqbal

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement