Sejak pertengahan 2015, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memulai pelaksanaan pembangunan fisik jalan layang nontol (JLNT) khusus busway Koridor 13. Menurut rencana, jalur sepanjang 9,3 kilometer ini akan digunakan oleh bus Transjakarta yang melayani rute Ciledug-Tendean.
Saat ini, pembangunan JLNT busway tersebut sudah hampir selesai pengerjaannya. "Kalau jalannya sendiri bisa dikatakan sudah rampung 90 persen. Sekarang ini tinggal pengaspalannya saja," tutur salah seorang pekerja proyek JLNT busway Koridor 13 yang ditemui Republika di kawasan Mayesatik Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rojak (42 tahun).
Sejak tahun lalu, Pemprov DKI Jakarta juga mulai mengebut pembangunan halte di sepanjang Koridor 13. Dari 12 halte yang direncanakan, ada beberapa yang sudah selesai pengerjaannya. Di antaranya adalah halte di Perempatan CSW, Mayestik, Velbak, ITC Cipulir, dan Seskoal.
Sayangnya, halte yang dibangun di sepanjang jalur Ciledug-Tendean itu memiliki ketinggian di atas rata-rata halte Transjakarta di Jakarta pada umumnya. Kondisi semacam itu dikhawatirkan bakal membahayakan para pengguna jasa Transjakarta nantinya. Lebih parahnya, halte-halte tersebut tidak dilengkapi fasilitas lift atau elevator untuk mempermudah akses bagi kalangan lansia, ibu hamil, dan difabel.
Hal tersebut seperti yang tampak di Jalan Kiai Maja, Mayestik, misalnya. Halte Transjakarta yang dibangun di sana memiliki ketinggian lebih 20 meter dari tanah. Untuk mencapai halte itu, para penumpang harus menaiki jenjang bertingkat tiga yang terdiri atas 70 anak tangga. "Tidak ada lift di halte ini. Karena, rancangan yang diterima kontraktor dari sananya memang seperti ini (tanpa lift)," kata Rojak.
Pria asal Rembang Jawa Tengah itu mengatakan, halte Transjakarta Koridor XIII di Mayestik mulai dikerjakan pihak kontraktor selepas Idul Fitri tahun lalu (1437 H). Kini, proses pengerjaan halte itu sudah 100 persen rampung. "Kalau target sebenarnya, proyek halte ini harusnya selesai 17 Januari ini. Tapi, ini ternyata lebih cepat (rampungnya) dari yang dijadwalkan," ucap Rojak.
Seorang warga yang ditemui Republika di dekat Pasar Mayestik, Siti Mujayanah (40) mengatakan, halte yang dibangun terlalu tinggi itu bakal menyulitkan para pengguna Transjakarta yang sudah berusia lanjut. Dia berpendapat, Pemprov DKI harusnya memikirkan rancangan halte yang lebih manusiawi, sehingga bisa mengakomodasi warga yang memiliki keterbatasan fisik.
"Kalau buat yang muda-muda sih, mungkin nggak jadi soal (untuk menaiki tangga halte itu). Tapi, kalau penumpangnya nenek-nenek, jangankan naik, untuk turun saja bisa ngos-ngosan," ujar Siti.
Perempuan itu menilai, Pemprov DKI telah bertindak diskriminatif dengan mengabaikan aspek keselamatan dan kenyamanan para penumpang Transjakarta di sepanjang Koridor XIII. Di halte Transjakarta Tosari, Jakarta Pusat, saja, kata Siti, Pemprov DKI mau menyediakan lift. Padahal, posisi halte di tempat itu lebih rendah jika dibandingkan dengan halte di Mayestik.
"Saya jadi bertanya-tanya, apa karena yang naik busway di sana (Tosari) itu kebanyakan orang berduit, sehingga Pemda DKI lebih mementingkan mereka daripada kami di sini?" tutur ibu lima anak itu.
Selain halte di Mayestik, halte yang dibangun Pemprov DKI di perempatan CSW, Kebayoran Baru, juga tidak kalah uniknya. Di sana, jarak halte dari tanah memiliki ketinggian 28 meter. Adapun jumlah jenjang untuk mencapai halte itu mencapai 113 anak tangga. "Jenjang menuju halte yang panjang dan curam seperti ini berpotensi membahayakan para lansia, ibu hamil, juga anak-anak. Harusnya, pemerintah membuat rancangan halte yang ramah untuk mereka," tutur salah satu pengguna jalan di Perempatan CSW, Urba Adiwijaya (31 tahun).
Keberadaan Halte Transjakarta Koridor 13 Ciledug-Tendean yang berada di Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, dinilai membahayakan penggunanya lantaran desain halte yang curam dan tinggi. Gubernur DKI nonaktif Basuki Tjahja Purnama alias Ahok mengaku, akan memberikan fasilitas lift pada halte tersebut. Menurut dia, setiap halte Transjakarta yang memiliki desain tinggi harus disertai fasilitas lift. "Nggak (menyusahkan penumpang), untuk yang itu makanya kita mau pasang lift. Setiap halte yang tinggi harus pasang lift," jelas Ahok.
Dia melanjutkan, dengan adanya lift akan memberi kenyamanan bagi para ibu hamil, lansia, atau difabel. Menurut Ahok, keberadaan halte yang tinggi tidak bisa dihindari lantaran harus tersedianya halte Transjakarta di setiap jalan arteri atas ataupun jalan tol. "Ini nggak bisa dihindari. Karena kita memaksa semua jalan arteri atas, tol-tol, harus ada jalur busway. Ini lagi mau diatur (pembuatan lift)," ujar Ahok. Oleh Ahmad Islamy Jamil antara ed: Erik Purnama Putra