Senin 08 Oct 2012 21:11 WIB

Ensiklopedi Hukum Islam: Fikih Muamalah (1)

Rep: Hannan Putra/ Red: Chairul Akhmad
Ilustrasi
Foto: citizenwarrior.com
Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Muamalah adalah sekumpulan hukum yang disyariatkan dalam Islam untuk mengatur hubungan kepentingan antarsesama manusia.

Secara etimologis, fikih berasal dari kata faqiha yang berarti paham dan muamalah berasal dari kata ‘amila yang berarti berbuat atau bertindak.

Muamalah adalah hubungan kepentingan antarsesama manusia yang dalam Alquran disebut dengan hablum minan naas. Ulama berbeda pendapat dalam hal pembagian hukum Islam.

Ibnu Abidin, seorang ulama Mazhab Hanafi berpendapat bahwa pokok-pokok urusan agama ialah akidah, akhlak, ibadah, muamalah, dan jinayah. Pokok- pokok itu menurutnya dapat dijadikan tiga saja, yaitu ibadah, muamalah, dan jinayah.

Ibadah meliputi shalat, zakat, puasa, haji, dan jihad. Muamalah meliputi transaksi kehartabendaan (al-mu’awadah al-maliyyah, seperti jual beli), perkawinan dan hal-hal yang berhubungan dengannya, urusan persengketaan (gugatan, peradilan, dan sebagainya) dan pembagian warisan. Jinayah meliputi hukum kisas, zina, murtad, dan sebagainya.

Ulama Mazhab Syafi’i membagi lapangan hukum Islam menjadi empat bidang, yaitu ibadah, muamalah, munakahah (perkawinan), dan ‘uqubah (hukuman). Menurut mazhab ini, empat bidang ini dapat disimpulkan menjadi dua saja, yaitu urusan akhirat (ibadah) dan urusan dunia (muamalah).

Walaupun ulama berbeda pendapat dalam pembagian hukum Islam itu, tetapi mereka sepakat bahwa pembagian pokoknya adalah lapangan ibadah dan lapangan muamalah. Lapangan muamalah kadang-kadang disebut juga lapangan adat, yaitu tata aturan yang dimaksudkan untuk mengatur hubungan perorangan maupun kelompok atau golongan.

Dengan kata lain aturan untuk mewujudkan kepentingan duniawi. Dengan adanya muamalah kehidupan manusia sebagai makhluk yang berketurunan dapat berlangsung.

Advertisement
Yuk Ngaji Hari Ini
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِۗ وَاِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْاۗ وَاِنْ كُنْتُمْ مَّرْضٰٓى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَاۤءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَاۤىِٕطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَاۤءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاۤءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَيْدِيْكُمْ مِّنْهُ ۗمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْ حَرَجٍ وَّلٰكِنْ يُّرِيْدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur.

(QS. Al-Ma'idah ayat 6)

Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement