REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pelatih tim nasional senior Indonesia, Jacksen Ferreira Tiago, mengaku mendapatkan pelajaran berharga usai memimpin anak-anak asuhnya dalam pertandingan melawan tim nasional Belanda dan Arsenal.
Ada banyak ilmu yang dipetiknya usai beradu taktik dengan para pelatih dari kedua tim tersebut. Jacksen mengatakan ilmu yang didapatnya dari pelatih timnas Belanda, Louis Van Gaal, adalah mengenai fleksibilitas dan variasi serangan.
Pada laga yang berlangsung di Stadion GBK, 7 Juni 2013, Indonesia sempat menahan imbang tanpa gol pada babak pertama sebelum akhirnya menelan kekalahan tiga gol tanpa balas.
"Babak pertama Van Gaal mengandalkan penetrasi dari lini tengah. Kita berhasil menetralisasi," kata Jacksen.
Tapi, di babak kedua, Van Gaal melakukan perubahan serangan dari lini sayap yang akhirnya membuat Indonesia kewalahan. "Fleksibilitas dan variasi serangan itu yang menjadi catatan saya dari seorang Van Gaal," kata Jacksen menambahkan.
Sedangkan dari pelatih Arsenal Arsene Wenger, Jacksen menyadari betul betapa pentingnya pergerakan pemain tanpa bola. Dia menilai kekalahan tujuh gol tanpa balas atas tim Meriam London lantaran anak-anak asuhnya terlalu fokus dalam mengawal pemain yang sedang membawa bola.
Sementara, pemain lawan lainnya dibiarkan bergerak leluasa. "Padahal hampir semua gol Arsenal tercipta berkat pergerakan tanpa bola yang dilakukan para pemainnya," ungkap dia.
"Wenger benar-benar seseorang pelatih yang mampu menciptakan pemainnya justru lebih berbahaya saat tidak memegang bola," Jacksen menuturkan.