REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat pertahanan Connie Rahakundini Bakrie menilai kunjungan Panglima TNI Jendral Moeldoko ke Cina beberapa waktu lalu merupakan langkah tepat.
Menurut Connie, militer Indonesia memang seharusnya memainkan posisinya sebagai penyimbang kawasan. "Inisiatif dari panglima seharusnya juga secara politik dimainkan oleh Presiden beserta Kemenlu dan Kemenhan," kara Connie, Senin (3/3).
Connie mengatakan, hal tersebut mengingat ditetapkan Air Defense Identification Zone (ADIZ) Cina di Laut Cina Timur yang pasti akan diikuti juga dengan penerapan ADIZ di Laut China Selatan. Indonesia seharusnya mengambil momentum ini juga dengan secara unilateral menetapkan zona ADIZ nya dan bersikap menjadi penengah di masalah ADIZ laut China selatan yang dipastikan akan lebih kompleks dibandingkan laut China Timur.
Connie menambahkan, sikap antisipatif dan mendorong terciptanya stabilitas kawasan memang sudah waktunya dimainkan Indonesia dengan lebih berani dan tegas utamanya terhadap negara tetangga yang seringkali secara unilateral menerapkan dan memainkan aturannya. Seperti Australia dicontohkannya, dengan Australia maritime identification zone (AMIZ) yang mengcover sepertiga Indonesia.
Sebelumnya, Panglima TNI Jendral Moeldoko berharap forum dialog antarpejabat militer Indonesia-Cina dapat mempererat dan meningkatkan kerjasama kedua negara. Saat melakukan pertemuan dengan Panglima Angkatan Bersenjata Cina Jenderal Fang Fenghui di Markas Besar Angkatan Bersenjata China, Beijing, Selasa (25/2), Panglima meyakini hubungan kedua negara, khususnya militer, dapat ditingkatkan untuk menjaga stabilitas keamanan, perdamaian dan kemakmuran kawasan.
Mantan Kepala Staf Angkatan Darat ini menuturkan, Indonesia dan China telah sepakat untuk menjadi mitra strategis pada 2005 yang ditindaklanjuti dengan penandatangan Rencana Aksi Kemitraan Strategis pada 2010 dan Komunike Bersama.
Khusus di bidang pertahanan, Moeldoko mengatakan Indonesia dan China telah menyepakati Forum Konsultasi Pertahanan pada 2007 dan kerja sama industri pertahanan pada 2011 yang diharapkan semakin meningkat. Adapun kerjasama itu antara lain saling kunjung pejabat tinggi militer, pertukaran perwira siswa di masing-masing angkatan, latihan bersama pasukan khusus antiteror dan lainnya.