Jumat 05 Jun 2015 15:06 WIB

Siswa SMK Ini Buat Alat Pengubah Plastik Jadi Bensin

Rep: c12/ Red: Dwi Murdaningsih
Sampah plastik, ilustrasi
Sampah plastik, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, CIMAHI -- Beberapa inovasi teknologi yang dikembangkan sejumlah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Jawa Barat dipamerkan di Cimahi Convention Hall, Kota Cimahi, Jumat (5/6). Salah satu inovasi teknologi yang dipamerkan, yakni alat distilasi yang berfungsi merubah barang-barang plastik bekas sehingga bisa menjadi bensin. Inovasi ini memang bukan yang pertama. Namun, SMK Negeri 1 Padaherang berupaya mengembangkan lebih lanjut penelitian yang berbahan dasar plastik ini.

Salah seorang siswa SMK Negeri 1 Padaherang yang mengembangkan teknologi ini, Adhiya Trian Anggaran, menjelaskan, seluruh barang yang berbahan dasar plastik pada dasarnya bisa diubah menjadi minyak, dalam hal ini bensin. Adhiya dan timnya, dalam melakukan penelitian tersebut, menggunakan tiga macam sample barang plastik, yakni gelas air mineral, botol air mineral, dan ember berbahan plastik. Dari tiga ini, gelar air mineral paling mudah dan cepat ketika diolah menjadi bensin.

Lanjut dia, dalam proses perubahan hingga menjadi bensin, gelas air mineral hanya butuh waktu tiga jam. Sementara, kalau ember, itu butuh waktu sampai lebih dari lima jam. Apalagi, peleburan ember ke bensin tidak sebersih gelas air mineral. "Harus dibersihkan lagi kalau ember, karena banyak yang kotor," tutur dia.

Proses distilasi ini menggunakan bahan bakar gas. Saat ember dijadikan sample pengujian, lima jam peleburan ember menjadi minyak itu menghabiskan satu tabung gas 3 kilogram. Hal tersebut berbanding terbalik ketika menguji gelas air mineral. Sebab, selama tiga jam proses perubahan dari awal hingga menjadi bensin, itu hanya menghabiskan setengah dari isi tabung gas 3 kilogram. Terlebih, hasil minyak yang dikeluarkan dari gelas air mineral ini pun terbilang bersih. Karena, hanya butuh satu kali penyulingan untuk menjadi bensin.

Kata Adhiya, teknologi yang dikembangkan timnya ini sudah lolos dua macam uji, yakni uji masa jenis dan uji titik nyala. Namun, sayangnya, penelitian mereka belum sampai pada tahap uji oktan. "Uji oktan belum dilakukan," ujar dia.

Akibatnya, bensin yang dihasilkan dari teknologinya itu belum setaraf dengan bensin berjenis premium atau bensin berkadar ron 88. "Jadi tinggal uji oktan saja," tutur dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement