Wednesday, 30 Zulqaidah 1443 / 29 June 2022

Wednesday, 30 Zulqaidah 1443 / 29 June 2022

30 Zulqaidah 1443
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Manchester United dan Dongeng Robin Hood

Senin 16 Dec 2019 22:15 WIB

Rep: Anggoro Pramudya/ Red: Citra Listya Rini

Para pemain Manchester United

Para pemain Manchester United

Foto: EPA-EFE/ALAN WALTER
Galak saat bertemu tim the Big Six, Iblis Merah menyusut berjumpa klub medioker.

REPUBLIKA.CO.ID, MANCHESTER  —  Dongeng Robin Hood acapkali dikenal di berbagai belahan dunia terutama Inggris. Misi pahlawan bertopi yang kerap membawa busur panah ini adalah membela kaum jelata. 

Meskipun kisah Robin Hood terdengar ambigu karena sering menjadi perdebatan. Robin Hood menjadi urban legend bagi penduduk Negeri Ratu Elizabeth. Robin Hood selalu mendapat dua sudut pandang berbeda, yaitu sebagai penjahat tulen bagi para bangsawan dan ksatria dermawan untuk kaum proletar.

Apapaun perdebatannya, tetap saja, cerita lawas Robin Hood tersebut selalu menjadi deretan dongeng paling menarik bagi masyarakat Inggris disamping lakon puteri Cinderella yang jauh dari kata feminisme.

Berbicara Robin Hood tak jauh berbeda dengan kisah perjalanan salah satu kesebelasan elite Liga Primer Inggris, Manchester United musim 2019/2020. Tim yang berbasis di Old Trafford itu selalu berhasil mencuri angka saat bentrok melawan deretan tim enam besar alias the Big Six.

Anomali itu terlihat ketika Iblis Merah berhadapan dengan klub-klub papan bawah alias tim gurem. Manchester United boleh bangga karena berhasil menggilas Chelsea 4-0, mengalahkan Tottenham Hotspur 2-1, Leicester City 1-0, serta menahan imbang Arsenalm, dan Liverpool 1-1.

Bukti paling beringas yang ditunjukkan Iblis Merah adalah menaklukkan sang juara bertahan Manchester City dengan skor 2-1 di Stadion Etihad pada 8 Desember lalu. Sayangnya, penampilan garang Manchester United tak berlanjut saat berhadapan dengan tim yang lebih mudah.

Padahal, di atas kertas materi pemain-pemain Manchester United jauh di atas para lawannya, termasuk hasil imbang 1-1 yang didapat saat menjamu Everton pada lanjutan pekan ke-17 Liga Primer Inggris.

photo
Penyerang Manchester United (MU) Marcus Rashford (kiri) dijatuhkan Bernardo Silva di kotak penalti Manchester City. Rashford mencetak gol untuk MU dari titik penalti.
Berkat hasil imbang kontra the Toffees, Iblis Merah gagal mengamankan posisi lima besar klasemen. Untuk sementara, Ashley Young dan kawan-kawan tetap bertahan di peringkat enam dengan perolehan angka 25, terpaut empat poin atas Chelsea di posisi ke empat alias zona Liga Champions.

Meski mengetahui hasil imbang ini merupakan langkah mundur atas tiga laga terakhir. Pelatih Manchester United Ole Gunnar Solskjaer tetap kerasaan timnya sudah berada di jalur yang tepat.

"Saya kira kami sudah berada di jalur yang benar. Kami hanya butuh konsistensi permainan dan terus bekerja keras untuk mengubah hasil-hasil imbang menjadi kemenangan,” kata pelatih yang akrab disapa Ole itu dilansir laman resmi klub, Senin (16/12).

photo
Ole Gunnar Solskjaer
Galak saat bertemu tim 'bangsawan’ the Big Six, dan menyusut ketika berjumpa klub medioker, Solskjaer pun menekankan timnya harus percaya diri di setiap pertandingan karena mereka selalu mempunyai peluang mencetak gol di setiap laga.

"Kami tahu tugas kami adalah harus tetap mempertahankan performa terbaik sekaligus mengamankan kemenangan saat melawan tim yang jauh berada di bawah," ujar pelatih asal Norwegia itu.

Faktor penyebab Manchester United kerap melempem saat bentrok dengan tim gurem yakni terdapat pada pola permainan tim. Pada laga versus Everton, armada Solskjaer sukses memainkan sepak bola menyerang dengan jumlah penguasaan bola 67 pernsen berbanding 33 persen pun total jumlah 24 percobaan tembakan.

Sedangkan saat berjumpa Liverpool dan Manchester City, Manchester United bermain lebih  jauh bertahan sehingga hanya mengandalkan serangan balik yang efektif. Di sisi lain, peran pemain kreatif hilang di lini tengah Iblis Merah. Dengan Paul Pogba, Juan Mata atau Daniel James dianggap jauh dari hal yang memuaskan.

Narasi Robin Hood yang berasal dari bangsawan dan beralih menjadi pembela kaum proletar, saat ini dianggap tepat disematkan kepada MU yang dahulu dikenal sebagai tim penguasa Liga Primer Inggris dan kini menjelma menjadi klub 'pembela tim-tim medioker’. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile