Ahad 20 Sep 2020 08:01 WIB

Wakil Ketua MPR RI Kritisi Mendikbud Soal Mapel Sejarah

Menghapus mapel sejarah tanpa sengaja telah melemahkan visi pendidikan mental bangsa

Rep: Ali Mansur/ Red: Andi Nur Aminah
Wakil Ketua MPR RI Dr. H. Jazilul Fawaid
Foto: Humas MPR
Wakil Ketua MPR RI Dr. H. Jazilul Fawaid

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Jazilul Fawaid mengkritisi kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terkait pada pelajaran (mapel) sejarah dalam kurikulum terbaru untuk Sekolah Menengah Atas (SMA). Kemendikbud, berencana menghapus mapel sejarah bagi siswa-siswi di SMK dan dijadikan sebagai mapel pilihan di SMA. "Mendikbud Nadiem Makarim buta sejarah," tegas politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dalam keterangannya, Sabtu (19/9).

Jazilul menilai, langkah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim tersebut justru tanpa sengaja telah melemahkan visi pendidikan dan mental bangsa. Jazilul menganggap bahwa kebijakan terbaru tersebut sebagai langkah mundur. 

Baca Juga

Kebijakan itu juga dinilai akan membuat generasi muda Indonesia terancam identitas dan jati dirinya sehingga bukan tidak mungkin di masa mendatang Indonesia akan bubar. "Percayalah, lambat laun, Indonesia akan kehilangan identitas, jatidiri. Kebijakan ini lahir dari Mendikbud yang buta sejarah dan kurang paham pentingnya sejarah. Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, Jasmerah," tegas Jazilul.

Oleh karena itu, Jazilul meminta Mendikbud Nadiem untuk kembali belajar soal sejarah pendidikan di Indonesia. Itu supaya tidak mudah begitu saja menghilangkan pelajaran sejarah dari kurikulum SMA. "Untuk merumuskan visi dan misi pendidikan ke depan, Mendikbud harus belajar lagi, supaya tidak mudah begitu saja menghilangkan pelajaran sejarah dari kurikulum SMA," ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Yuk Ngaji Hari Ini
سَيَقُوْلُ الْمُخَلَّفُوْنَ اِذَا انْطَلَقْتُمْ اِلٰى مَغَانِمَ لِتَأْخُذُوْهَا ذَرُوْنَا نَتَّبِعْكُمْ ۚ يُرِيْدُوْنَ اَنْ يُّبَدِّلُوْا كَلٰمَ اللّٰهِ ۗ قُلْ لَّنْ تَتَّبِعُوْنَا كَذٰلِكُمْ قَالَ اللّٰهُ مِنْ قَبْلُ ۖفَسَيَقُوْلُوْنَ بَلْ تَحْسُدُوْنَنَا ۗ بَلْ كَانُوْا لَا يَفْقَهُوْنَ اِلَّا قَلِيْلًا
Apabila kamu berangkat untuk mengambil barang rampasan, orang-orang Badui yang tertinggal itu akan berkata, “Biarkanlah kami mengikuti kamu.” Mereka hendak mengubah janji Allah. Katakanlah, “Kamu sekali-kali tidak (boleh) mengikuti kami. Demikianlah yang telah ditetapkan Allah sejak semula.” Maka mereka akan berkata, “Sebenarnya kamu dengki kepada kami.” Padahal mereka tidak mengerti melainkan sedikit sekali.

(QS. Al-Fath ayat 15)

Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement