Senin 25 Jan 2021 21:24 WIB

Konsumsi Rokok tidak Terkendali Berdampak pada Kemiskinan

PKJS UI mengatakan prevalensi perokok anak terus meningkat.

Kampanye antirokok.
Foto: Yasin Habibi/Republika
Kampanye antirokok.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peneliti Pusat Kajian Jaminan Sosial (PKJS) Universitas Indonesia Renny Nurhasanah mengatakan konsumsi rokok yang tidak terkendali dapat berdampak terhadap kemiskinan hingga kekerdilan pada anak. "Akibat dari harga rokok yang masih terjangkau adalah peningkatan perokok anak, anak stunting (kekerdilan), kemiskinan, hingga mengganggu program bantuan sosial pemerintah," katanya dalam diskusi yang diadakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta secara virtual di Jakarta, Senin (25/1).

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2018, prevalensi perokok anak mencapai 9,1 persen, jauh dari sasaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2019 yang dapat diturunkan menjadi 5,4 persen. Prevalensi perokok anak, kata dia, terus meningkat.

Baca Juga

Menurut Riset Kesehatan Dasar 2013, prevalensi perokok anak 7,2 persen, sedangkan Survei Indikator Kesehatan Nasional 2016 mencatat 8,8 persen. "Rokok juga menjadi salah satu faktor risiko kesakitan, kematian, dan disabilitas. Kejadian anak 'stunting' 5,5 persen lebih tinggi pada anak dengan orang tua yang merokok," tuturnya.

Ia menyebut rokok juga berdampak pada kemiskinan. Prevalensi perokok pada penduduk termiskin lebih tinggi daripada pada penduduk terkaya. 

Survei Badan Pusat Statistik juga selalu menempatkan belanja rokok pada posisi kedua setelah beras, dan menjadi salah satu pengeluaran terbesar pada rumah tangga termiskin. Program bantuan sosial dari pemerintah juga terancam dengan konsumsi rokok yang tinggi, meskipun pemerintah sudah mengimbau penerima bantuan sosial untuk tidak membelanjakan bantuan yang diterima untuk membeli rokok.

"Keluarga penerima bantuan sosial yang perokok memiliki konsumsi kalori, protein, lemak, dan karbohidrat yang jauh lebih rendah dibandingkan keluarga penerima bantuan sosial yang tidak merokok," katanya.

sumber : Antara
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Yuk Ngaji Hari Ini
سَيَقُوْلُ الْمُخَلَّفُوْنَ اِذَا انْطَلَقْتُمْ اِلٰى مَغَانِمَ لِتَأْخُذُوْهَا ذَرُوْنَا نَتَّبِعْكُمْ ۚ يُرِيْدُوْنَ اَنْ يُّبَدِّلُوْا كَلٰمَ اللّٰهِ ۗ قُلْ لَّنْ تَتَّبِعُوْنَا كَذٰلِكُمْ قَالَ اللّٰهُ مِنْ قَبْلُ ۖفَسَيَقُوْلُوْنَ بَلْ تَحْسُدُوْنَنَا ۗ بَلْ كَانُوْا لَا يَفْقَهُوْنَ اِلَّا قَلِيْلًا
Apabila kamu berangkat untuk mengambil barang rampasan, orang-orang Badui yang tertinggal itu akan berkata, “Biarkanlah kami mengikuti kamu.” Mereka hendak mengubah janji Allah. Katakanlah, “Kamu sekali-kali tidak (boleh) mengikuti kami. Demikianlah yang telah ditetapkan Allah sejak semula.” Maka mereka akan berkata, “Sebenarnya kamu dengki kepada kami.” Padahal mereka tidak mengerti melainkan sedikit sekali.

(QS. Al-Fath ayat 15)

Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement