Thursday, 20 Muharram 1444 / 18 August 2022

Thursday, 20 Muharram 1444 / 18 August 2022

 

20 Muharram 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Beijing Berbagi Data Covid-19 dengan Penyidik WHO

Rabu 31 Mar 2021 22:50 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Muhammad Hafil

Beijing Berbagi Data Covid-19 dengan Penyidik WHO. Foto: Datsa Pasien positif Covid-19 (Ilustrasi)

Beijing Berbagi Data Covid-19 dengan Penyidik WHO. Foto: Datsa Pasien positif Covid-19 (Ilustrasi)

Foto: www.freepik.com.
Peneliti China sebut data covid-19 dibagi bersama Beijing dan penyidik WHO.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Pakar kesehatan Cina mengatakan tuduhan Beijing tidak berbagi data dengan tim Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam penelitian asal usul Covid-19 tidak mendasar. Usai hasil penelitian itu dirilis Sekretaris Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan Cina menahan data dari tim peneliti internasional.

 

Namun salah satu ketua penelitian gabungan itu, Liang Wannian mengatakan peneliti kedua belah pihak memiliki akses pada data yang sama selama penyelidikan berlangsung. Menurutnya tuduhan akses terhadap data lemah tidaklah akurat.

"Tentu, berdasarkan hukum Cina, beberapa data tidak bisa dibawa atau difoto, tapi ketika kami menganalisisnya bersama di Wuhan, semua orang dapat melihat database, materinya, semuanya bersama-sama," katanya, Rabu (31/3).

Merespon tuduhan tim pakar internasional WHO tidak memiliki akses data dan sampel yang lengkap, Liang mengatakan tidak ada ilmuwan yang menerima informasi yang sempurna. Ia juga membantah mengenai keterlambatan rilisnya laporan tersebut.

"Setiap kalimat, setiap kesimpulan, setiap data, harus diverifikasi kedua belah pihak sebelum dirilis, sepanjang itu kami mempertahankan prinsip 'kualitas yang utama'," kata Liang yang menjabat sebagai kepala komite pakar Covid-19 Cina.

Penelitian gabungan menyimpulkan kemungkinan besar Covid-19 berasal dari binatang. Lalu ditularkan ke spesies perantara sebelum menyebar ke manusia. Penelitian itu juga menyebutkan butuh upaya lebih banyak untuk melacak apakah virus korona berasal dari pasar hewan liar di Cina dan Asia Tenggara.

Liang mengatakan Cina akan terus melacak asal usul Covid-19 tapi bagian Negeri Tirai Bambu dalam penelitian gabungan sudah selesai dan kini perhatian harus beralih ke negara lain. Ia menambahkan upaya melacak asal mula Covid-19 tidak bisa dilakukan dalam satu malam.

"Ada banyak  penyakit yang sudah menyebar sejak lama dan kami  masih tidak mengetahui asal mulanya, masih butuh banyak waktu," kata Liang. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile