Friday, 14 Muharram 1444 / 12 August 2022

Friday, 14 Muharram 1444 / 12 August 2022

14 Muharram 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Wagub Jabar Sesalkan Video Viral Pemuda Sukabumi Injak Alquran 

Kamis 05 May 2022 17:05 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Agus Yulianto

Ilustrasi Penistaan Agama Melalui Media Sosial

Ilustrasi Penistaan Agama Melalui Media Sosial

Foto: Republika/Thoudy Badai
Aparat dan para pihak berwajib lainnya untuk segera menindak lanjuti kasus tersebut. 

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Barat (Jabar), Uu Ruzhanul Ulum, menyesalkan, ulah pemuda di Sukabumi yang viral karena dengan sengaja menginjak Alquran bahkan dengan nada menantang umat Muslim. Aksi tak terpuji pemuda terkam pada video berdurasi 14 detik, hingga jadi perbincangan di sosial media (sosmed).

Uu mengatakan, dengan alasan apapun, tindakan konyol dengan unsur penghinaan bahkan penistaan agama, agar tidak dilakukan oleh siapapun. Selain tidak ada manfaatnya, hal tersebut, justru berpotensi memecah belah bangsa.

Baca Juga

"Sekarang ada lagi yang menghina kitab suci, saya berharap masyarakat ataupun siapapun tolong hentikan 'Ihanah' (penghinaan) terhadap simbol-simbol keagamaan apalagi kitab suci yang dihargai seluruh umat beragama, karena tidak ada manfaatnya, buat apa?" ujar Uu, di Kota Bandung, Kamis (5/5/2022).

"Menghina agama, selain dosa, juga dapat hukuman dari aparat, juga dari masyarakat akan dihukum (secara sosial) dan lainnya," imbuhnya.

Selanjutnya, Uu meminta, masyarakat pro-aktif terhadap permasalahan yang demikian dan perlu tindakan tegas dari tokoh masyarakat setempat bila ditemukan warganya yang melakukan aksi tak terpuji. Tentunya, kata dia, tindakan yang dilakukan masyarakat bukan tindakan yang melanggar hukum. Tapi bisa dalam bentuk teguran, nasihat, hingga mengantarkan yang bersangkutan ke aparat yang berwajib untuk diproses secara hukum.

Baca juga : Pelaku yang Sebarkan Video Injak Alquran adalah Suami-Istri, Ini Motifnya

"Oleh karena itu hentikan pelecehan agama, untuk agama manapun, lagian nanti masa depan (pelaku) gimana? Kalau sudah melakukan tindakan itu," katanya.

Kepada para orangtua, Uu mendorong agar melakukan pengawasan terhadap anak-anaknya. Terpenting, yakni memfasilitasi anak untuk belajar pendidikan ukhrawi disamping pendidikan umum yang dilakukan secara formal di sekolah.

Sehingga, kata dia, anak-anak lebih paham agama, dan punya karakter akhlak yang baik. Lebih jauh lagi, tidak mudah terprovokasi oleh paham- paham yang menyimpang, yang memicu terjadinya tindak pelecehan terhadap simbol-simbol agama manapun.

"Sebagai orang tua tolong berilah pengalaman keagamaan bagi anak-anak, kalau mereka memahami tentang agama diharapkan mereka tidak akan seperti itu. Setidaknya mereka akan tahu dosa, tahu Syurga dan Neraka. Maka tolong berilah pemahaman," papar Uu.

Baca juga : Ini Gejala Awal Hepatitis Akut yang Harus Diperhatikan Orang Tua

Maka, kata dia, di samping pendidikan formal yang bersifat umum, berikan juga pendidikan agama yang bersifat ukhrawi. "Mengapa mereka berani melakukan pelecehan terhadap agama? Karena mereka merasa pintar dan agama diinjak-injak," imbuhnya.

Sehingga, kata dia, menjadi tanggung jawab bersama agar kejadian serupa tidak terulang lagi. "Saya minta masyarakat untuk mengawasi, Masyarakat jangan Apriori, diminta tindakan dari masyarakat, tindakan yang tidak melanggar aturan, mislanya dipanggil oleh tokoh masyarakat, atau dilaporkan dengan dibawa orangnya, jadi jangan masyarakat hanya melihat di medsos, lalu membiarkan dan hanya mengandalkan tindakan dari aparat," paparnya.

Uu pun mendorong kepada aparat dan para pihak berwajib lainnya untuk segera menindak lanjuti kasus tersebut. Apalagi, sudah mulai diketahui identitas dan alamat terduga pelaku di kawasan Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi.

Baca juga : Ilmuwan Sebut Selama Miliaran Tahun Bulan Mungkin Menyedot Air dari Bumi

Uu berharap ada tindakan tegas dari aparat agar kasus penghinaan yang seharusnya tidak perlu dilakukan ini tidak terjadi lagi.

"Harapan kami supaya tidak terulang lagi, karena dianggap hukumannya biasa, jadi mereka tidak takut," katanya. 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile