Selasa 19 Jul 2022 20:15 WIB

Putin Bawa Banyak Agenda Dalam Pertemuan di Iran

Putin, Raisi dan Erdogan mambahas masalah mendesak yang dihadapi kawasan

Rep: Dwina Agustin/ Red: Esthi Maharani
Putin dijadwalkan mengadakan pembicaraan dengan Presiden Iran Ebrahim Raisi dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
Foto: AP/Sergey Guneev/Pool Sputnik Kremlin
Putin dijadwalkan mengadakan pembicaraan dengan Presiden Iran Ebrahim Raisi dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan kunjungan ke Iran pada Selasa (19/7/2022). Kedatangannya dimaksudkan untuk memperdalam hubungan dengan negara-negara besar regional sebagai bagian dari tantangan Rusia terhadap Amerika Serikat (AS) dan Eropa.

Putin dijadwalkan mengadakan pembicaraan dengan Presiden Iran Ebrahim Raisi dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Mereka akan membahas tentang masalah mendesak yang dihadapi kawasan itu, termasuk konflik di Suriah dan proposal untuk melanjutkan ekspor gandum Ukraina untuk meringankan krisis pangan global.

"Iran adalah pusat diplomasi dinamis," tulis Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amirabdollahian di Twitter.

Amirabdollahian menegaskan, pertemuan itu akan mengembangkan kerja sama ekonomi, fokus pada keamanan kawasan melalui solusi politik dan memastikan keamanan pangan.

Penasihat Urusan Luar Negeri Putin Yuri Ushakov menyebut, Iran mitra penting bagi Rusia pada Senin (18/7/2022). Dia mengatakan negara-negara itu memiliki keinginan untuk membawa hubungan mereka ke tingkat kemitraan strategis yang baru.

Dalam kunjungan kelima ke Teheran, Putin akan bertemu dengan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Menurut Ushakov, pertemuan akan mengedepankan dialog saling percaya.

Selain itu, Putin akan mengadakan pembicaraan dengan Raisi mengenai isu-isu termasuk kesepakatan nuklir 2015 dengan Rusia adalah penandatangan utamanya. Para pemimpin bertemu di Moskow pada Januari dan bulan lalu di Turkmenistan.

Fokus pembicaraan di antara ketiga presiden tersebut adalah konflik yang telah berlangsung selama satu dekade di Suriah, di mana Iran dan Rusia telah mendukung pemerintah Presiden Bashar Assad, sementara Turki telah mendukung faksi-faksi oposisi bersenjata. Rusia melakukan intervensi dalam konflik pada tahun 2015, menyatukan upaya dengan militan Hizbullah Lebanon dan pasukan Iran dan menggunakan kekuatan udaranya untuk menopang militer Assad yang masih muda dan pada akhirnya membalikkan keadaan yang menguntungkannya.

Ushakov mengatakan para pihak akan membahas upaya untuk mendorong penyelesaian politik. Sementara Erdogan diperkirakan akan mengambil fokus pada serangan militer baru di Suriah utara untuk mengusir pejuang Kurdi Suriah yang didukung AS dari perbatasannya.

Operasi tersebut merupakan bagian dari rencana Turki untuk menciptakan zona aman di sepanjang perbatasannya dengan Suriah. Sedangkan Rusia, menurut Ushakov, sangat menentang serangan Turki yang direncanakan.

Masalah kemanusiaan di Suriah juga menjadi fokus sejak Rusia menggunakan hak vetonya di Dewan Keamanan PBB pekan lalu. Hasil itu memaksa pembatasan pengiriman bantuan kepada 4,1 juta orang di barat laut Suriah yang dikuasai pemberontak setelah enam bulan, bukan satu tahun.

Pembicaraan untuk mencabut blokade Rusia dan memasukkan biji-bijian Ukraina ke pasar global juga akan menjadi agenda dalam pembicaraan trilateral. Pekan lalu, pejabat PBB, Rusia, Ukraina, dan Turki mencapai kesepakatan memastikan ekspor 22 juta ton biji-bijian yang sangat dibutuhkan dan produk pertanian lainnya yang terperangkap di pelabuhan Laut Hitam Ukraina akibat pertempuran tersebut.

Pertemuan Putin dan Erdogan kali ini dapat membantu membersihkan rintangan yang tersisa. Tindakan ini akan menjadi langkah besar untuk mengurangi krisis pangan yang telah membuat harga komoditas vital seperti gandum dan jelai melonjak.  

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement