Komisi X DPR RI Nilai Konsep PPDB Sudah Bagus Tapi Jadi Amburadul karena Hal Ini

Para pihak yang terlibat dalam PPDB harus konsisten dengan regulasi yang ada.

Rabu , 10 Aug 2022, 08:42 WIB
Wali murid calon peserta didik berkonsultasi tentang pendaftaran saat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2022 (ilustrasi).
Foto: ANTARA/Makna Zaezar
Wali murid calon peserta didik berkonsultasi tentang pendaftaran saat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2022 (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Penerimaan peserta didik baru (PPDB) selalu menyedot perhatian masyarakat. Karena, kerap menimbulkan masalah. Hal ini pun, menjadi perhatian dari Anggota Komisi X DPR RI, Sodik Mudjahid.

Sodik pun geram dengan PPDB yang selalu menyisakan masalah di kemudian hari. Ia menilai, sistem PPDB saat ini sebenarnya sudah bagus dari sisi regulasi. "Konsep PPDB sebenarnya sudah bagus. Ada sistem zonasi, prestasi, dan juga afirmasi," ujar Sodik yang juga Ketua Yayasan Darul Hikam, kepada wartawan, Rabu (10/8/2022).

Baca Juga

Namun, kata dia, konsep bagus, tapi tidak dijalankan sesuai aturan maka hasilnya akan amburadul. Jadi, para pihak yang terlibat dalam PPDB harus konsisten dengan regulasi yang ada.

Intinya, kata dia, harus konsisten, karena regulasinya sudah bagus. Ada zonasi, prestai, dan afirmasi sebenarnya sudah bagus. Tapi, tinggal konsisten saja. "Jangan, ada sekolah yang ujug-ujug membuka kelas baru, dan lain-lain. Ini tidak konsisten," katanya.

Menurutnya, yang menjadi sorotan pihaknya juga masalah mental dalam PPDB ini. Saat ini, mental masyarakat masih banyak yang menitipkan anak di sekolah tertentu. "Yang menitipkan itu di antaranya pejabat. Untuk itulah mengapa negara ini rapuh," katanya.

Sodik berharap sekolah juga harus tetap menjaga mutu dan kualitas pendidikan. Ia mencontohkan di Darul Hikam, konsep yang dikembangkan ada tiga. Yakni kolaborasi, inovasi, dan digitalisasi.

"Kolaborasi, inovasi, dan digitalisasi merupakan konsep di Darul hikam yang saya adopsi dari filosofinya Gubernur Jabar, Ridwan Kamil dalam membangun Jabar," katanya.

Dengan kolaborasi, kata dia, diharapkan upaya dan program yang dilakukan bisa berjalan bahkan terus berkembang. Begitu juga dengan inovasi yang harus terus digali, serta digitalisasi.

"Zamannya sudah beda saat ini. Sudah era digital. Kita harus mengikuti zaman, kalau tidak ya ketinggalan. Dan saat ini kalau mau maju ya harus berkolaborasi," katanya.

Sodik mencontohkan saat ini Darul Hikam memiliki banyak tempat. Ini sebagai buah dari kolaborasi beberapa pihak yang ingin bermitra dengan Darul Hikam. Tentunya, kolaborasi harus diikat dengan kerjasama yang baik.

Kolaborasi dalam mengembangkan sekolah Darul Hikam, kata dia, tidak selalu berorientasi kepada bisnis. Melainkan mencari SDM, baik itu tenaga pendidik berkompeten atau siswa unggul sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan.

"Untuk menjaga sistem mutu dan kualitas pendidikan ada dua kriteria yang harus dipegang teguh oleh seluruh civitas akademika Darul Hikam," katanya.

Pertama, kata dia, komitmen mengembangkan dunia pendidikan, SDM dan agama bahkan mengabdikan diri untuk masa depan bangsa. Termasuk bagi yang ingin bermitra dengan Darul Hikam, mereka harus punya kriteria itu.

"Siapa pun yang ingin bermitra dengan Darul Hikam jangan fokus untuk mencari keuntungan finansial semata. Tapi, komitmen memperbanyak amal ibadah. Istilah kami melembagakan amal saleh," kata Sodik.