Tuesday, 8 Rabiul Awwal 1444 / 04 October 2022

Tuesday, 8 Rabiul Awwal 1444 / 04 October 2022

 

8 Rabiul Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Siapa Salman Rushdie, Penulis Ayat-Ayat Setan yang Ditikam?

Sabtu 13 Aug 2022 20:35 WIB

Rep: Fergi Nadira B/ Red: Esthi Maharani

Salman Rushdie dan buku kontroversialnya, The Satanic Verses.

Salman Rushdie dan buku kontroversialnya, The Satanic Verses.

Novel Ayat-Ayat Setan telah menjadi bahan kontroversi dan memakan korban

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penulis Salman Rushdie diserang di atas panggung di negara bagian New York pada Jumat (12/8/2022) menjelang kuliah yang akan dia sampaikan. Rushdie (75 tahun) ditikam di leher dan perut sehingga langsung dilarikan ke rumah sakit.

 

Rushdie adalah pengarang beberapa novel yang mendapat pengakuan luas, termasuk Midnight's Children, yang memenangkan Booker Prize pada tahun 1981. Ia merupakan seorang kritikus agama yang membangkang. Ia juga kerap mengkritik para pemimpin yang menggunakan agama untuk keuntungan politik.

Bukunya, "The Satanic Verses," (Ayat-Ayat Setan) pada 1988 menjadi bahan kontroversi. Novel itu dianggap menurut beberapa Muslim berisi bagian-bagian penghujatan, termasuk penghinaan terhadap Nabi Muhammad Saw.

Di seluruh dunia Muslim, protes yang sering disertai kekerasan meletus terhadap Rushdie, yang lahir di India dari keluarga Muslim. Sedikitnya 45 orang tewas dalam kerusuhan terkait buku tersebut, termasuk 12 orang di kota kelahiran Rushdie, Mumbai. Pada 1991, seorang penerjemah Jepang dari buku itu ditikam sampai mati dan seorang penerjemah Italia selamat dari serangan pisau. Pada 1993, penerbit buku Norwegia ditembak tiga kali dan selamat.

Rushdie menghabiskan bertahun-tahun bersembunyi setelah pemimpin Ayatollah Agung Ruhollah Khomeini dari Iran menerbitkan sebuah fatwa yang menyerukan umat Islam untuk membunuh Rushdie pada 1989. Ayatollah Ali Khamenei, penerus Khomeini, yang cuitannya kemudian dihapus pada 2019 mengatakan bahwa fatwa itu tetap berlaku.​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​

Dalam sebuah memoar tentang masanya bersembunyi, Rushdie mengungkapkan ketidaknyamanannya pada tingkat keamanan yang tinggi di bandara AS di New Jersey dan Denver ketika dia tiba untuk menjadi pembicara. Tetapi dalam beberapa tahun terakhir, dia hidup lebih bebas dan bersikeras bahwa dia tidak boleh terus-menerus diawasi dan dilindungi oleh penjaga keamanan hingga insiden penikaman terjadi.

sumber : Reuters
Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f

 

 

BERITA LAINNYA

 

 

hide ads show ads
desktop mobile