Saturday, 9 Jumadil Awwal 1444 / 03 December 2022

Saturday, 9 Jumadil Awwal 1444 / 03 December 2022

9 Jumadil Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

China Ambil Tindakan untuk Atasi Kekeringan

Rabu 17 Aug 2022 11:35 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Friska Yolandha

Sungai Yangtze. China mengambil tindakan darurat untuk mengatasi kekeringan di lembah sungai Yangtze.

Sungai Yangtze. China mengambil tindakan darurat untuk mengatasi kekeringan di lembah sungai Yangtze.

Foto: EPA
Stasiun cuaca nasional mencatat suhu udara tembus rekor dengan 40 derajat Celsius.

REPUBLIKA.CO.ID, SHANGHAI -- China mengambil tindakan darurat untuk mengatasi kekeringan di lembah sungai Yangtze. Dengan mengirimkan lebih banyak air, menggelontorkan lebih banyak bantuan, penyemai awan dan membangun sumber air baru.

Langkah ini diambil saat gelombang panas yang tembus rekor telah merusak lahan pertanian dan peternakan. Dalam pemberitahuannya, Rabu (17/8/2022) Kementerian Sumber Daya Air mengatakan kekeringan di lembah Sungai Yangtze "berdampak pada keamanan air minum orang desa dan ternak, dan pertumbuhan tanaman."

Baca Juga

Kementerian juga mendesak daerah untuk lebih akurat lagi melakukan asesmen pada wilayah yang terdampak kekeringan dan menyarankan rencana untuk menjaga pasokan air. Termasuk pengiriman air sementara, membangun sumber baru dan memperpanjang jaringan pipa.

Kementerian menambahkan untuk meningkatkan pasokan hilir,  Bendungan Tiga Ngarai, proyek pembangkit listrik tenaga air terbesar di China, juga akan meningkatkan debit air sebesar 500 juta meter kubik selama 10 hari ke depan.

Sebelumnya pada pekan ini Kementerian Keuangan China mengatakan ternak di wilayah yang terdampak kekeringan akan dipindah ke wilayah lain. Mereka menambahkan akan menggelontorkan bantuan bencana sebesar 300 juta yuan.

Provinsi Hubei mengumumkan program modifikasi cuaca terbaru. Dengan mengerahkan lebih banyak pesawat menembakkan batang iodida perak ke awan untuk menginduksi curah hujan.

Daerah lain di sekitar Yangtze juga meluncurkan program "penyemaian awan" tapi awan terlalu tipis. Sehingga kekeringan di sebagian wilayah lembah Yangtze masih berlanjut.

Media setempat mengutip data dari Pusat Iklim Nasional yang menunjukkan gelombang panas tahun ini berlangsung selama 64 hari. Sehingga gelombang panas tahun ini menjadi yang terlama sejak 1961.

Stasiun cuaca nasional mencatat suhu udara juga tembus rekor dengan 40 derajat Celsius. Pusat cuaca meramalkan  suhu panas di Lembah Sichuan dan sebagian besar wilayah Cina tengah akan berlanjut sampai 26 Agustus. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
 
 
 
 
hide ads show ads
desktop mobile