Kamis 25 May 2023 08:23 WIB

Layanan BSI Terganggu, Ekonom UI: Bank Syariah Lain Bisa Ambil Peluang

Bank syariah lain bisa mengambil momentum untuk promosi.

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Ahmad Fikri Noor
Pegawai BSI membantu nasabah melakukan transaksi di Kantor Cabang Jakarta Thamrin, Jakarta, Kamis (11/5/2023). Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah (PEBS) Universitas Indonesia, Rahmatina Awaliah Kasri menilai seharusnya kejadian yang menimpa BSI menjadi momentum bank syariah bisa memberikan layanan yang lebih baik, aman, dan terpercaya.
Foto: Prayogi/Republika
Pegawai BSI membantu nasabah melakukan transaksi di Kantor Cabang Jakarta Thamrin, Jakarta, Kamis (11/5/2023). Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah (PEBS) Universitas Indonesia, Rahmatina Awaliah Kasri menilai seharusnya kejadian yang menimpa BSI menjadi momentum bank syariah bisa memberikan layanan yang lebih baik, aman, dan terpercaya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Kasus peretasan diduga ransomware yang menyerang Bank Syariah Indonesia atau BSI berimbas pada aturan di Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh. Saat ini, Pemprov Aceh sedang dalam tahap merevisi Qanun Nomor 11 Tahun 2018 tentang Lembaga Keuangan Syariah (LKS), yang mana akan mengizinkan bank konvensional kembali beroperasi di provinsi tersebut.

Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah (PEBS) Universitas Indonesia, Rahmatina Awaliah Kasri menilai seharusnya kejadian yang menimpa BSI menjadi momentum bank syariah bisa memberikan layanan yang lebih baik, aman, dan tepercaya. Bank syariah lain seharusnya juga bisa mengambil momentum untuk promosi.

Baca Juga

"Siapa tahu ada nasabah BSI yang mau buka second account, third account, dan seterusnya untuk personal risk management mereka," tuturnya kepada Republika, Rabu (24/5/2023).

Memang, sambungnya, kejadian gangguan layanan BSI pada pekan lalu sangat berdampak besar pada kegiatan ekonomi dan bisnis di Aceh. Termasuk, pertumbuhan bank syariah di Aceh.