Blogger Nasionalis China Ramai-Ramai Menyerang Barat
Ziganwu melakukan propaganda menyerang Barat tanpa dibayar.
REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Dunia media sosial China kini dibanjiri oleh influencer maupun blogger yang bersikap sangat nasionalis. Mereka ikut terjun melakukan propaganda bahkan dengan tidak dibayar oleh pemerintah.
Seperit dikutip dari BBC, Kelompok influencer baru ini dikenal sebagai "ziganwu" yang ketenarannya di media sosial Cina terkait erat dengan naiknya nasionalisme China. Nama mereka mengacu pada tentara troll "wumao" yang dibayar untuk menyebarkan propaganda negara. Bedanya ziganwu bergerak dengan sukarela.
Postingan dan video pedas ziganwu dibagikan oleh puluhan ribu penggemar. Isinya sering mengkritik negara-negara Barat dan media. Isu-isu seperti feminisme, hak asasi manusia, multikulturalisme, demokrasi yang dianggap sebagai pengaruh Barat yang merusak masyarakat Cina juga sering disoroti.
Mereka yang dianggap mempromosikan separatisme seperti juru kampanye pro-demokrasi Taiwan dan Hong Kong, serta aktivis, intelektual, dan pakar, juga sering berakhir di garis bidik kelompok ini. Target ziganwu termasuk penulis Fang Fang, yang dikenal karena kisahnya yang membakar tentang tahap awal wabah Wuhan yang menarik perhatian internasional.
Dalam sebuah posting yang menjadi viral tahun lalu, influencer ziganwu, Shangdizhiying, menuduh Fang membuat tusukan terdalam bagi Cina. "Salah satu senjata terbesar yang digunakan oleh pasukan anti-China untuk menodai kita," tulisnya.
Baru-baru ini, pakar medis terkemuka Zhang Wenhong menjadi sasaran. Dia muncul untuk menyarankan bahwa Cina harus belajar hidup dengan Covid-19, yang dianggap bertentangan dengan kebijakan resmi. Beberapa influencer segera menggali disertasi lama dan menuduhnya melakukan plagiarisme, sebuah tuduhan yang kemudian disangkal oleh universitas tempat Zhang berkuliah.
Sebuah saran bahwa anak-anak harus minum susu untuk sarapan dianggap sebagai tanda bahwa Zhang menolak sarapan tradisional China dan nilai-nilai. "Bukankah ini terlalu memuja Barat dan menjilat orang asing?" tulis Pingminwangxiaoshi.
Postingan semacam itu muncul lusinan dan dapat dipompa setiap hari. Seringkali singkat dan emosional, sehingga menjadi salah satu alasan mengapa mereka menjadi viral.
"Ini adalah nasionalisme makanan cepat saji. Orang-orang menggigitnya, membagikannya, lalu melupakannya," kata analis media sosial Cina, Many Koetse.
Banyak dari ziganwu masih muda, tumbuh dengan pendidikan yang dipenuhi dengan patriotisme, dan kebanggaan China. "Jadi, Anda memiliki campuran eksplosif antara sentimen anti-asing dan pro-Cina dengan tekanan pada budaya dan identitas Cina," ujar Koetse.
Peningkatan popularitas kelompok ini sangat mencolok mengingat bahwa China juga semakin memberlakukan aturan ketat tentang tulisan daring. Muncul penyensoran berat terhadap aktivis dan warga negara biasa. Postingan sensitif secara teratur dihapus dari platform seperti Weibo dan WeChat.
Suara-suara yang cenderung mempromosikan garis resmi pemerintah China tampaknya diberi kendali lebih bebas. Dalam beberapa kasus bahkan diperkuat oleh media pemerintah yang mengunggah ulang konten mereka di media sosial atau mencetak ulang esai tersebut.
Hingga saat ini tidak diketahui ziganwu ini memiliki hubungan langsung dengan negara. Namun beberapa telah diundang untuk menghadiri acara atau diberi gelar kehormatan oleh pemerintah provinsi.
Tapi ziganwu hanyalah salah satu bagian dari ekosistem yang kompleks. Sebagian besar wacana patriotik di media sosial Cina, khususnya di Weibo, masih didorong oleh media pemerintah.
Pemerintah dapat membentuk diskusi dengan membuat dan mempromosikan satu tagar. Peristiwa ini seperti yang mereka lakukan selama serangan balik pada boikot Barat terhadap kapas Xinjiang.
Peraturan internet Cina pun mendorong pengguna untuk secara aktif mempromosikan propaganda partai. Kondisi itu membuat banyak dari influencer ini hanya mengeksploitasi sistem. "Anda bisa menjadi oportunis. Jika saya ingin menjadi influencer karir media sosial, begitulah saya bisa menjadi terkenal di lingkungan nasionalis beracun yang sedang dibuat ini," kata analis lembaga think-tank/Doublethink Lab, Harpre Ke.