Ustadz Khalifah M Ali Bicara Green Ramadhan: Kurangi Limbah, Maksimalkan Ibadah
Ustadz Khalifah menekankan kesadaran akan limbah makanan saat Ramadhan.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Isu lingkungan hidup kini menjadi perhatian global, tak terkecuali bagi generasi muda. Anak muda, dengan semangat dan kepeduliannya, dinilai memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian bumi.
Di Indonesia, sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim, ajaran Islam turut memberikan panduan dalam menjaga lingkungan. Konsep Green Ramadhan menjadi salah satu wujud nyata dari kepedulian tersebut.
Anak muda Muslim dinilai dapat menjadi agen perubahan dalam menjaga lingkungan. Mereka dapat memulai dari hal-hal kecil, seperti mengurangi penggunaan plastik, menghemat air dan listrik, serta memilih produk-produk ramah lingkungan.
Dalam Islam, menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah. Allah SWT menciptakan alam semesta dengan keseimbangan yang sempurna, dan manusia sebagai khalifah di bumi memiliki tanggung jawab untuk menjaganya. Konsep Green Ramadhan mengajak umat Islam untuk menjalankan ibadah puasa dengan lebih ramah lingkungan.
Ketua Yayasan Hutan Wakaf Bogor Khalifah Muhamad Ali menekankan pentingnya kesadaran akan limbah makanan saat berbuka puasa. Saat Ramadhan, sering kita lihat banyak sampah atau limbah makanan terbuang. Untuk itu, kata dia, salah satu hal penting yang perlu diperhatikan yaitu "Mengapa banyak makanan terbuang?". Hal ini lantaran seseorang cenderung mengambil banyak makanan saat berbuka puasa, padahal itu melebihi kebutuhan kita.
"Ini menurut saya penting untuk kita perhatikan. Jangan sampai kita mengambil makanan terlalu banyak atau menyediakan makanan terlalu banyak untuk buka puasa di rumah, masjid, atau tempat lain," ujarnya kepada Republika.co.id pada Rabu (26/2/2025).
Ustadz Khalifah juga memberikan beberapa solusi praktis, baik bagi individu maupun pihak yang menyediakan makanan. "Harus ambil makanan secukupnya, karena kalau makanan sudah keambil atau kebeli, mau nggak mau harus kita makan. Pertama kita jadi kekenyangan, kemudian jadi ngantuk atau bahkan sakit, nggak bisa Sholat Tarawih. Kedua, limbah sampah terlalu banyak. Menurut saya yang penting sejak awal menahan agar tidak mengonsumsi berlebihan. Itu dari sisi kita sebagai pengonsumsi," kata dia menjelaskan.
Di lain sisi, Ustadz Khalifah mengimbau pihak-pihak pihak yang menyediakan makanan berbuka puasa, semisal pihak masjid atau ibu rumah tangga di rumah, harus mengukur porsi makanan. "Jangan terlalu berlebihan dalam menyediakan iftar atau hidangan berbuka. Harus mengukur dengan pas dan tidak berlebihan atau kekurangan sehingga makanan pas dan tidak terlalu banyak," ujar Ketua Departemen Ilmu Ekonomi Syariah IPB University periode 2023-2028 ini.
Selain itu, Ustadz Khalifah menekankan pentingnya penggunaan kemasan ramah lingkungan. Menurut dia, ada baiknya pihak yang memberikan makanan berbuka puasa misalnya Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) tidak menyediakan makanan dengan kemasan bahan plastik. "Sebisa mungkin diatur supaya wadah bisa digunakan kembali. Jadi mengurangi penggunaan botol atau gelas plastik sekali pakai, tapi pakai wadah bisa dipakai berulang sehingga sampah anorganik menjadi lebih minimal," kata pria kelahiran Jakarta 10 Maret 1986 ini.
Praktik Green Ramadhan juga dapat dilakukan dengan bijak dalam penggunaan sandang. "Kalau mau Lebaran, biasanya pada beli baju. Kita perlu bijak bisa melihat apakah perlu beli baju baru? Kalau iya, perhatikan kebutuhannya. Kalau ada baju tidak dipakai, bisa diberikan kepada orang agar lebih berguna, jangan ditumpuk terus. Itu langkah praktis yang bisa dilakukan," ujarnya.
Pada Ramadhan kali ini, Ustadz Khalifah berkolaborasi dengan Republika membuat program "1 Menit Jeda" yang akan tayang di akun media sosial. Dia menyambut baik kolaborasi dengan Republika dalam menyebarkan pesan-pesan yang berkenaan tentang lingkungan dan problem lain yang kerap dihadapi anak muda. Dia mengatakan, kolaborasi ini menjadi penting karena berkaitan dengan digitalisasi dimana kita bisa menyampaikan pesan-pesan secara lebih masif dan tersebar.
"Kebetulan saya juga di MUI, Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (LPLH & SDA) Majelis Ulama Indonesia (MUI), kita lihat dakwah yang berkaitan dengan lingkungan masih kurang. Kita sering dengar dakwah fikih sholat, fikih zakat, tapi jarang belajar fikih lingkungan, padahal bagian dari agama kita," kata dia.
Dengan demikian, anak muda Muslim bisa memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga lingkungan, terutama pada bulan Ramadhan. Melalui praktik Green Ramadhan dan tindakan-tindakan nyata lainnya, mereka dapat menjadi generasi yang peduli dan bertanggung jawab terhadap kelestarian bumi, sekaligus menjalankan ibadah dengan lebih bermakna. Dalam program berdurasi sekitar satu menit tersebut, hadir juga dua ustadz lainnya yakni ahli fikih muamalah Ustadz Oni Sahroni dan dai muda asal Gorontalo Alhabib Salim Bin Abdurrahman Aljufri.