MUI: Masih Ada LGBT Warnai Program Ramadhan di Televisi

Beberapa tayangan terindikasi melakukan gerakan erotis hingga kata-kata tak pantas.

Republika/Fauziah Mursid
Ketua MUI Bidang Informasi dan Komunikasi Masduki Baidlowi
Rep: Muhyiddin Red: A.Syalaby Ichsan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyesalkan adanya pelanggaran siaran Ramadhan 1446 H di Lembaga Penyiaran (LP) televisi. Hal ini berdasarkan data dari temuan Tim Pemantauan Siaran Ramadhan MUI pada tahap satu, yaitu 10 hari pertama bulan Ramadhan.

Baca Juga


Ketua MUI Bidang Informasi dan Komunikasi, KH Masduki Baidlowi mengatakan, program Berkah Ramadhan (Trans TV) dan Theater Pas Buka (Trans 7) adalah dua program tayangan Ramadhan yang paling banyak mendapatkan sorotan tim pemantauan. 

Kiai Masduki mencontohkan, beberapa tayangan yang terindikasi melakukan pelanggaran adalah kata-kata yang tidak pantas, gerakan erotis seperti goyangan berlebih, atau menunjukkan perilaku dan kata-kata yang mengindikasikan LGBT, serta menunjukkan ekspresi kekerasan, baik kekerasan fisik maupun kekerasan verbal masih terus muncul.

Pada tayangan Berkah Ramadhan (Trans TV) edisi 8 Maret 2025 misalnya, terdapat ucapan "Gak tahu ngomong apa, sedih berusaha ngerti kamu ngomong apa." "Penonton ada jurang gak? Saya jorokin." 

Adegan itu setelah Anwar mengejek Maxime karena ucapannya yang tidak bisa dimengerti. Kemudiaan, masih di program yang sama, ada adegan asosiatif Laki Suka Laki (LSL) yang terjadi pada 10 Maret 2025. 

Ketika itu, Anwar mengatakan, "Penonton, aku gak mau depan, belakang aja," dilanjutkan ungkapan Anwar," Soalnya pas lagi begini ada gas bunyi 'cruut cruut'".

Sementara itu, terdapat pula pada Program Theater Pas Buka Trans7. Pada tayangan 11 Maret 2025, tampak Ayu Ting-ting menggunakan kostum yang tampak vulgar. 

Dia menambahkan, tim juga menemukan sejumlah program yang pada dasarnya sangat bagus, tetapi tercederai dengan humor-humor yang kurang pantas. Salah satunya terjadi  pada program Akademi Sahur Indonesia (AKSI) Indosiar.

“Candaan yang dilontarkan talent justru kurang pas dengan konsep program yang cukup bagus ini,” kata dia.  

 

 

Sementara itu, Anggota Tim Pemantauan Siaran Ramadhan 1446 H MUI, Rida Hesti Ratnasari menjelaskan, pelanggaran lebih banyak dilakukan oleh tayangan-tayangan hiburan yang sifatnya komedi, karena cara-cara bercandanya masih mengandalkan ejekan, hinaan, yang tergambar pada kata-kata yang merendahkan, melecehkan, maupun tindakan-tindakan yang sifatnya fisik. 

Karena itu, Rida berharap KPI sebagai institusi yang berwenang dapat melakukan teguran keras kepada produsen tayangan tersebut. Hal ini mungkin bisa melakukan kembali audit program siaran pada tayangan-tayangan yang sifatnya live tersebut."Sehingga ke depan model komedi-komedi yang mencederai kualitas siaran itu akan semakin berkurang dan berganti dengan tayangan komedi yang cerdas dan berkualitas,’’ jelas dia. 

MUI juga berharap lembaga penyiaran menjadi institusi yang juga memiliki semangat yang sama dengan MUI, yakni menebar dan penyemai kebaikan dan mencegah kemungkaran dalam tayangan siaran Ramadhan.

"Lembaga Penyiaran diharapkan melakukan dakwah kepada jalan yang lebih baik dengan kemampuan yang memproduksi siaran,’’ ucap dia. 

 

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Berita Terpopuler