Kamis 05 Nov 2015 13:00 WIB

Ayah Menyayangi tanpa Akhir: Drama Haru Melawan Kanker

Red: operator

REPUBLIKA.CO.ID,Ayah Menyayangi tanpa Akhir: Drama Haru Melawan Kanker


Ceritanya bermula dari rasa cinta pasangan beda bangsa, Juna (Fedi Nuril) yang asli Solo dan berdarah ningrat dengan seorang perempuan asal Jepang bernama Keisha Mizuki (Kelly Tandiono). Hubungan dua manusia itu tidak disetujui oleh keluarga Juna yang masih menjunjung tinggi adat Jawa. 

Namun, berbekal kekuatan cinta yang dimilikinya, Juna mencoba menembus benteng perbedaan itu sehingga ia dan Keisha akhirnya resmi menjadi pasangan suami istri. Juna pun menjalani hari-hari yang bahagia bersama perempuan pilihannya itu, meski harus menerima risiko dikucilkan oleh keluarga besarnya di Solo.

Setelah menikah, mereka dikaruniai seorang anak bernama Mada (Naufal Azhar). Namun, Keisha harus kehilangan nyawanya saat melahirkan buah hati mereka tersebut. Sejak ditinggalkan Keisha, selama bertahun-tahun Juna harus menjalani peran sebagai orang tua tunggal. Meskipun tugas itu tidak pernah mudah, ia mampu mendidik dan merawat Mada dengan penuh cinta dan kasih sayang.

Akan tetapi, Juna kembali berhadapan dengan cobaan berat. Saat sang anak tengah asyik-asyiknya menikmati masa remaja yang penuh keceriaan, dokter menyatakan Mada positif mengidap kanker otak. Keduanya pun harus berjuang keras menghadapi bersama penyakit mematikan itu. Bertahun-tahun mereka bersama melawan gempuran kanker hingga akhirnya Juna harus menelan kenyataan pahit itu.

Film panjang berdurasi 90 menit itu diangkat dari novel yang dibuat berdasarkan kisah nyata karya Kirana Kejora. Lewat sentuhan sutradara Hanny Saputra yang turut menggarap penulisan skenario film bersama Salman Aristo dan Ifan Ismail, buku setebal 372 halaman tersebut mampu diadaptasikan dengan ringkas ke layar lebar tanpa mengurangi unsur-unsur dramatikalnya.

Sepanjang durasi itu, kita diajak untuk menghayati alur cerita yang banyak menguras air mata menyaksikan perjuangan ayah dan anak melawan keganasan kanker. Fedi Nuril dan Naufal Azhar terlihat mampu menghadirkan hubungan dekat antara ayah dan anak yang begitu nyata. Namun, dalam beberapa adegan, Fedi tampak terlalu menggebu-gebu ketika menghadirkan karakter seorang ayah.

Ia lebih kelihatan seperti sosok pemuda yang gampang meledak daripada sosok seorang ayah dengan emosi yang matang. Selain itu, penampilan Fedi pun kelihatan tidak banyak berubah. Untuk cerita yang menghadirkan karakter ayah dan anaknya yang remaja berusia 15 tahun, upaya menghadirkan sosok ayah yang bijak dan kuat menghadapi cobaan tidak terlalu kelihatan dari sosok Fedi yang tampil apa adanya tanpa polesan "kematangan." Sosok Fedi bahkan lebih cocok hadir sebagai kakak bagi karakter Mada ketimbang menjadi ayahnya.

Kendati begitu, di sisi lain, perjuangan Juna untuk menyembuhkan Mada dari sakitnya cukup tereksplorasi dengan baik. Beberapa adegan menampilkan secara apik kesungguhan Juna melatih kemampuan motorik Mada yang melemah pascaoperasi. Pada adegan lainnya, Juna yang berprofesi sebagai apoteker juga diperlihatkan tengah meracik obat-obatan yang diperlukan untuk kesembuhan anaknya.

Untuk kamu yang ingin menyaksikan kisah perjuangan melawan kanker yang penuh haru, film ini tampaknya bisa menjadi pilihan yang menarik.

N ed: endah hapsari 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Apa yang paling menarik bagi Anda tentang Singapura?

1 of 7
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement