Senin 11 Jul 2011 07:40 WIB

PKB Tolak Usulan Ambang Batas Parlemen Diputuskan di Paripurna

Rep: Ditto Pappilanda/ Red: cr01
Anggota DPR RI mengikuti Sidang Paripurna di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta.
Foto: Antara/Yudhi Mahatma
Anggota DPR RI mengikuti Sidang Paripurna di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pimpinan Badan Legislatif (Baleg) menyerahkan sepenuhnya penentuan angka ambang batas parlemen pada Sidang Paripurna DPR RI, besok, (Senin 11/7). Namun hal ini mendapat tentangan dari sejumlah fraksi yang menganggap pembahasan ambang batas harusnya diselesaikan oleh Baleg.

Salah satu yang menentang upaya lepas tangan Baleg adalah Fraksi PKB. Ketua Fraksi PKB, Marwan Jafar, menuntut Baleg untuk melalui proses yang seharusnya dalam merancang undang-undang. Penetapan angka ambang batas masih harus melalui pembahasan di tingkat Pansus, Panja dan Timus. "Apa gunanya pansus kalau tidak menyelesaikan ini," kata Marwan saat hubungi via telepon, Ahad (10/7).

Menurut dia, tidak lazim konflik yang dihadapi Baleg dalam menyusun Rancangan Undang-Undang (RUU) diselesaikan oleh Sidang Paripurna. Paripurna harusnya tinggal mengesahkan.

Sebelumnya, Ketua Baleg, Ignatius Mulyono, menyatakan menyerahkan sepenuhnya penetapan angka ambang batas yang akan diajukan pada pemerintah kepada Paripurna.

Dalam pleno terakhir, Baleg memberikan dua alternatif angka ambang batas, yaitu angka 2,5 persen hingga 5 persen, dan kedua, 3 persen sebagai simbol ketidaksepakatan politik antar-fraksi. "Kami mendorong masalah ambang batas dibawa dan diselesaikan di Pansus, meskipun forum tertinggi itu Paripurna," kata Marwan.

Hingga kini, setahu Marwan, anggota Pansus belum terpilih karenanya perjalanan RUU Pemilu masih panjang.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Yuk Ngaji Hari Ini
يَسْتَفْتُوْنَكَۗ قُلِ اللّٰهُ يُفْتِيْكُمْ فِى الْكَلٰلَةِ ۗاِنِ امْرُؤٌا هَلَكَ لَيْسَ لَهٗ وَلَدٌ وَّلَهٗٓ اُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَۚ وَهُوَ يَرِثُهَآ اِنْ لَّمْ يَكُنْ لَّهَا وَلَدٌ ۚ فَاِنْ كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثٰنِ مِمَّا تَرَكَ ۗوَاِنْ كَانُوْٓا اِخْوَةً رِّجَالًا وَّنِسَاۤءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْاُنْثَيَيْنِۗ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اَنْ تَضِلُّوْا ۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ࣖ
Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah, “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu), jika seseorang mati dan dia tidak mempunyai anak tetapi mempunyai saudara perempuan, maka bagiannya (saudara perempuannya itu) seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mewarisi (seluruh harta saudara perempuan), jika dia tidak mempunyai anak. Tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki-laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sama dengan bagian dua saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, agar kamu tidak sesat. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

(QS. An-Nisa' ayat 176)

Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement