REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Tahanan mogok makan Palestina di penjara Israel, Thaer Halahla dibebaskan pada Selasa (5/6) malam waktu setempat. Thaer yang sudah mogok makan selama 76 hari mencatat rekor terlama mogok makan.
Anggota keluarga di kota Hebron, Tepi Barat mengatakan, sejak Juni 2010 Thaer ditahan Israel. Sementara tahanan mogok makan lainnya, Bilal Diab diperkirakan bebas pada Agustus mendatang. Mereka berdua termasuk di antara 1.500 tahanan yang mogok makan untuk memprotes Israel yang menahan mereka tanpa alasan jelas dan tanpa diadili.
Dua warga Palestina lainnya, Mahmud Sarsak dan Akram Rikhawi juga sedang mogok makan. Sarsak, seorang tahanan administratif dari Gaza, menuntut untuk diakui sebagai tahanan perang. Ia mulai menolak makanan pada 23 Maret dan sudah 53 hari tanpa makan. Ia sempat kembali makan pada 14 Mei ketika kesepakatan dengan Israel ditandatangani. Namun, ia kembali mogok makan sehari setelahnya.
Sementara Rikhawi yang telah enam tahun ditahan dari sembilan tahun masa tahanannya, meminta otoritas penjara menyerahkan berkas medis kepadanya. Keduanya kini berada di rumah sakit di penjara Ramle dekat Tel Aviv. Mogok makan dipelopori Khader Adnan, melakukan aksi mogok makan Desember lalu, ia pun memulai babak baru gerakan non-kekerasan Palestina.
Gerakan mogok makan massal warga Palestina di penjara Israel mulai mencuri perhatian organisasi internasional. Palang Merah Internasional (ICRC), Uni Eropa, dan PBB mendesak Israel memberikan hak para tahanan. Menurut ICRC, Israel harus segera melarikan lima dari ribuan tahanan yang sekarang memburuk kesehatannya ke rumah sakit. Mereka juga mendesak Israel mengizinkan keluarga para tahanan berkunjung ke penjara.
Mereka masuk ke dalam kategori penahanan administratif. Metode penahanan yang diberlakukan Israel karena orang tersebut dianggap mengancam keamanan. Tanpa dakwaan jelas, mereka dijebloskan ke dalam sel dan masa penahanan diperpanjang setiap enam bulan. Menurut ICRC, mereka dalam keadaan sekarat.