REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL -- Turki berusaha meningkatkan hubungan politik dan komersial dengan Kawasan Teluk. Jalan ini sebagai upaya Turki mengembangkan keuangan syariah, salah satu perekonomian paling dinamis di dunia Muslim.
Keuangan syariah di Turki telah menikmati pertumbuhan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Namun pangsa pasar masih tetap kecil. Total aset bank syariah (bank partisipasi) di Turki meningkat menjadi enam persen dari dua persen pada dekade lalu.
Pemerintah Turki ingin melihat kenaikan aset menjadi 15 persen pada dekade berikutnya. Strategi yang ditempuh antara lain mendukung melalui regulasi serta mendorong penduduk pedesaan yang tidak memiliki rekening bank untuk membuka rekening dengan perbankan syariah. "Visi jasa keuangan Turki pada 2023, bisa melihat industri perbankan syariah menjadi tiga kali lipat, lebih dari 100 miliar dolar AS seperti kondisi Malaysia saat ini," tulis dalam laporan Kantor Akuntan Ernst & Young seperti dikutip dari Reuters, Kamis (30/5).
Dua bank negara Turki, yakni Ziraat dan Halkbank diatur untuk mencapai target itu. Kedua akan membangun bank partisipasi. Pangsa perbankan syariah Turki tergolong masih kecil, padahal 99 persen dari 76 juta jumlah penduduk adalah Muslim. "Di Malaysia penduduknya 75 persen Muslim namun pangsa perbankan syariahnya 35 persen sementara di Turki hanya 6 persen," kata Kepala Lembaga Pemberi Pinjaman Al Baraka Turk, Mustafa Cetin.
Albaraka Turk sendiri tumbuh 20 persen pertahun dalam hal aset. "Bank akan menjadi satu dari delapan dealer utama edisi perdana sukuk," ucapnya.
Penerbitan sukuk Turki ditetapkan Juni oleh International Islamic Liquidity Manajemen Corp berbasis di Malaysia (IILM). IILM dibentuk untuk meningkatkan likuiditas global dalam instrumen syariah. Turki akan memungkinkan penggunaan instrumen lebih banyak termasuk Istisna, Murabahah, Mudharabah, Musyarakah dan obligasi Wakala. Bank syariah lokal harus lebih kuat membantu negara menarik lebih banyak dana dari Kawasan Teluk.
Kegelisahan tentang keuangan syariah di Turki telah mereda dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan Dewan Pasar Modal Turki sedang menyelesaikan lima peraturan untuk menerbitkan sukuk. Turki akan mengeluarkan jenis sukuk yang paling banyak digunakan di dunia. Hal ini memberi mereka akses kepada investor lebih luas melalui pasar global yang diperkirakan lebih dari 100 miliar dolar AS.
Turki memiliki sektor swasta yang kuat dan semakin bersemangat membiayai proyek-proyek internasional menggunakan produk syariah. Langkah ini merupakan bagian dari rencana merayakan peringatan 100 tahun berdirinya republik modern Turki di 2023. Turki bertujuan mengubah ekonomi dan budaya Istanbul menjadi pusat keuangan utama.
Anak perusahaan Kuwait Finance House (KFH), Kuveyt Turk telah lebih dulu mengeluarkan sukuk 100 juta dolar AS pada 2010. Kemudian menepuk pasar pada 2011 dengan 350 juta dolar AS. Pemerintah Turki mulai memasuki pasar syariah pada September 2012 dengan 1,5 miliar dolar AS sukuk Ijarah. Struktur penyewaan beragun aset sejalan dengan prinsip-prinsip Islam. Secara teknis Turki siap ambil bagian dari keuangan syariah pada dekade lalu. Namun hal itu tidak dilakukan karena alasan politik.