Oleh: Afriza Hanifa
Syekh menolak permintaan Amirul Mukminin agar dirinya datang ke istana.
Suatu hari, Amirul Mukminin Abdul Malik bin Marwan tiba-tiba terbangun dari tidur siangnya dan tergesa. Ia segera memanggil penjaga, “Wahai Maisarah,” serunya.
Penjaga sultan yang tegap dan gagah pun segera datang, “Ada apa Amirul Mukminin?” tanyanya.
“Pergilah ke Masjid Nabawi dan undanglah kemari salah seorang ulama di sana untuk memberikan peringatan di istana,” pinta Ibn Marwan.
Maisarah pun segera ke masjid. Tapi, di sana hanya ada seorang syekh yang usianya telah sepuh. Tapi, auranya penuh wibawa dan kharismatik. Orang-orang menghormatinya karena ilmunya yang tinggi.
Melihatnya, Maisarah pun mendekat majelis sang syekh. Ia menunjukkan jarinya memberikan tanda kepada syekh. Tapi, Syekh tak menghiraukannya. Karena tak dipedulikan, Maisarah akhirnya menghampiri sang syekh. “Tidakkah Anda melihat saya menunjuk kepada Anda?” ujarnya.
Sang syekh pun menjawab, “Anda menunjuk saya?”
Maisarah berkata, “Ya.”
Syekh pun kembali bertanya, “Apa keperluan Anda?”
Maisarah menjawab, “Amirul Mukminin memintaku untuk pergi ke Masjid Nabawi dan membawa seorang ulama untuk mengajarkan hadis untuknya.”
Syekh itu menjawab ringan, “Bukan saya orang yang beliau maksud.”
“Tapi, Amirul Mukminin menginginkan seorang ulama untuk berbincang dengannya,” kata Maisarah.
Syekh hanya menjawab, “Barangsiapa yang menghendaki sesuatu maka seharusnya dialah yang datang. Masjid ini memiliki ruangan yang luas. Jika beliau ingin, datanglah. Selain itu, hadis lebih layak untuk didatangi, namun beliau enggan mendatanginya,” kata syekh.
Maisarah pun kembali ke istana tanpa membawa seorang ulama. Ia menemui Amirul Mukminin dan mengisahkan pertemuannya dengan seorang syekh sepuh tadi.
Mendengar kisah Maisarah, Ibn Marwan pun menebak, “Pasti dia adalah Syekh Sa'id bin Musayyab.” Tebakan sultan benar. Amirul Mukminin pun meninggalkan tempatnya dan kembali ke kamar.
Ketika sang sultan telah masuk, anak-anaknya pun saling membicarakan kisah Maisarah yang mereka dengar. Putra bungsu sultan pun geram. “Siapakah orang yang berani menentang Amirul Mukminin dan menolaknya. Padahal, dunia tunduk padanya, raja-raja Romawi pun gentar karena wibawanya?” kata si bungsu heran.
Kakaknya pun menimpali, “Dia adalah syekh yang putrinya pernah dipinang oleh ayah untuk saudara kita, al-Walid. Namun, syekh menolak pinangan itu,” ujarnya.
Si bungsu makin terheran-heran. “Benarkah itu? Dia menolak menikahkan putrinya dengan putra mahkota?”
Namun, sang kakak tak tahu bagaimana peristiwa penolakan itu terjadi. Lalu, seorang pengasuh putra sultan pun berkata bahwa ia mengetahui kisah itu. “Sekiranya diizinkan, saya akan menceritakan seluruh kisah itu,” ujarnya. Ia pun kemudian mengisahkannya kepada kedua putra sultan.
“Gadis putri sang syekh telah menikah dengan seorang pemuda di kampung saya bernama Abu Wada'ah. Kebetulan dia adalah tetangga dekat saya. Pernikahannya menjadi suatu kisah yang sangat romantis, seperti yang diceritakan Abu Wada'ah sendiri kepada saya,” ujar sang pengasuh.