Kamis 08 May 2014 08:00 WIB

PMII: Capres Jangan Kunjungi Pesantren Jelang Pemilu Saja

Rep: C57/ Red: Didi Purwadi
Suasana kegiatan santri di salah satu pondok pesantren.
Foto: Republika/Tahta Aidilla
Suasana kegiatan santri di salah satu pondok pesantren.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum PB Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Addin Jauharuddin, meminta para calon presiden (capres) tidak berkunjung ke ulama dan pesantren menjelang pemilihan umum (pemilu) saja.

"Para capres jangan hanya berkunjung ke ulama dan pesantren menjelang pemilu saja. Kenyataan selama ini, ulama dan pesantren ditinggalkan begitu saja setelah sang capres menjadi presiden," tutur Addin saat dihubungi Republika Online pada Rabu malam (7/5).

PMII, ujar Addin, menilai kunjungan para capres dan calon wakil presiden (cawapres) ke berbagai pondok pesantren dan ulama sebagai hal yang wajar.

Pasalnya, Indonesia didirikan oleh dua kekuatan utama bangsa yakni kelompok Islam (ulama) dan nasionalis. Jadi, ulama dan pesantren tidak bisa ditinggalkan begitu saja dalam proses politik di Indonesia.

Kunjungan capres dan cawapres itu, lanjut Addin, juga dapat dilihat dari sisi positif. Yakni, upaya mereka untuk berkomunikasi, berdialog dan bertukar pikiran dengan konstituen terutama ulama dan pesantren.

Dri sisi riil politik, jelas Addin, kunjungan itu pun diperlukan untuk menggalang dukungan publik bagi para capres dan cawapres.

Namun, terang Addin, sangat disayangkan tidak ada program dan kebijakan riil dari para capres dan cawapres terkait komitmen mengembangkan dan memajukan pendidikan pesantren secara serius, terukur dan terarah.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Yuk Ngaji Hari Ini
يَسْتَفْتُوْنَكَۗ قُلِ اللّٰهُ يُفْتِيْكُمْ فِى الْكَلٰلَةِ ۗاِنِ امْرُؤٌا هَلَكَ لَيْسَ لَهٗ وَلَدٌ وَّلَهٗٓ اُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَۚ وَهُوَ يَرِثُهَآ اِنْ لَّمْ يَكُنْ لَّهَا وَلَدٌ ۚ فَاِنْ كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثٰنِ مِمَّا تَرَكَ ۗوَاِنْ كَانُوْٓا اِخْوَةً رِّجَالًا وَّنِسَاۤءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْاُنْثَيَيْنِۗ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اَنْ تَضِلُّوْا ۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ࣖ
Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah, “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu), jika seseorang mati dan dia tidak mempunyai anak tetapi mempunyai saudara perempuan, maka bagiannya (saudara perempuannya itu) seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mewarisi (seluruh harta saudara perempuan), jika dia tidak mempunyai anak. Tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki-laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sama dengan bagian dua saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, agar kamu tidak sesat. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

(QS. An-Nisa' ayat 176)

Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement