Selasa 23 Jun 2015 11:22 WIB

MUI: Kebebasan Informasi Bukan Berarti Sebarkan Keburukan

Rep: c94/ Red: Agung Sasongko
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma'aruf Amin berbicara saat launcing kegiatan di kantor Pusat MUI,Jakarta,Kamis (21/5).
Foto: Republika/ Tahta Aidilla
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma'aruf Amin berbicara saat launcing kegiatan di kantor Pusat MUI,Jakarta,Kamis (21/5).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Islam memandang berita atau kabar yang disampaikan media ke masyarakat harus benar dan semua dipikirkan tujuan baiknya. Selain itu, penyebaran berita tidak benar tentu sangat tidak baik.

"Jadi berita tabayun (pertemuan/klarifikasi itu ketika memang menghadapi kondisi yang memang harus diselesaikan,"kata Ketua Bidang Dakwah Majelis Ulama Indonesia, KH Cholil Nafis saat dihubungi ROL, Selasa (22/6).

Meski begitu, kata Kiyai Cholil,  setiap informasi yang diterima bisa saja dapat tabayun untuk kebaikan. Hanya saja, jika memang tidak ada keperluan tabayun sebaiknya tidak perlu menyampaikan kepada yang lain.

"Meskipun itu benar, apa lagi tidak benar. Kedua, hal-hal yang buruk tidak boleh disampaikan kepada pulblik. Menyampai keburukan orang lain itu hanya diperlukan ketika untuk tujuan pendidikan di kalangan terbatas dan tujuan untuk mengadili keburukan tersebut,"ungkapnya.

MUI, kata Cholil, berharap kepada masyarakat bahwa tujuan dari informasi itu bukan berarti bebas menyebarkan keburukan. Sebaliknya, justru tujuan informasi harus menyampaikan untuk perubahan yang lebih baik.

Kedua, tentunya sistem informasi media telah diatur oleh undang-undang pemerintah. Menurutnya, pemerintah dapat berperan memproses berita yang sekirannya mengarahkan bukan kepada kebaikan.  "Saya pikir bisa diberikan tindakan dan peringatan,"kata Kiyai Cholil.

Cholil menambahkan, pemberitaan atau media akan menentukan keterdidikan masyarakat. Komentar MUI ini menanggapi maraknya media sosial ataupun media informasi yang dinilai tidak mendidik masyarat. Seperti informasi atau berita tidak benar yang bersifat mengadu domba, fitnah, atau hiburan yang berlebihan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Yuk Ngaji Hari Ini
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِۗ وَاِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْاۗ وَاِنْ كُنْتُمْ مَّرْضٰٓى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَاۤءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَاۤىِٕطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَاۤءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاۤءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَيْدِيْكُمْ مِّنْهُ ۗمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْ حَرَجٍ وَّلٰكِنْ يُّرِيْدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur.

(QS. Al-Ma'idah ayat 6)

Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement