REPUBLIKA.CO.ID, WILMINGTON -- Calon presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Donald Trump, pada Selasa (Rabu WIB) secara implisit menyatakan bahwa para aktivis pembela hak bersenjata bisa bertindak untuk menghentikan rival dari Partai Demokrat, Hillary Clinton.
"Jika dia berwenang memilih hakim (Mahkamah Agung yang anti-senjata), tidak ada lagi yang bisa kalian lakukan. Namun dengan adanya para pembela Amandemen Kedua, mungkin ada cara (untuk menghentikan Clinton). Saya tidak tahu," kata Trump.
Amandemen Kedua Konstitusi Amerika Serikat menjamin hak warga negara tersebut untuk memiliki senjata. Persoalan mengenai hak kepemilikan senjata selalu menjadi perdebatan panas di Amerika Serikat terutama menjelang pemilihan umum dan usai kejadian penembakan massal.
Beberapa orang yang hadir nampak memicingkan mata saat Trump menyatakan pendapat tersebut. Tim kampanye Clinton menanggapi dengan menyebut pernyataan Trump 'berbahaya'. "Seorang yang mencalonkan diri menjadi presiden Amerika Serikat tidak seharusnya menyerukan kekerasan dengan cara apa pun," kata tim kampanye Clinton.
Saat ditanya mengenai pernyataan kontroversial itu, tim kampanye Trump mengatakan bahwa dia bermaksud untuk menyatukan semua pembela Amandemen Kedua untuk memilih Trump.
"Ini adalah seruan untuk persatuan. Para pembela Amandemen Kedua adalah orang-orang yang mempunyai semangan tinggi dan satu suara, sehingga membuat mereka mempunyai kekuatan politik besar," kata tim kampanye Trump.
Sementara itu mantan Wali Kota New York, Rudy Giuliani, menuding media memelintir pernyataan Trump untuk membantu Clinton terpilih menjadi presiden.
"Yang dia maksud adalah, bahwa kalian mempunyai kekuatan untuk tidak memilih Clinton. Kalian punya kekuatan untuk melawannya. Karena apa? Karena kalian warga Amerika," kata dia di depan para pendukung Trump di Fayetteville, North Carolina.
"Ini membuktikan bahwa sebagian besar media mendukung Clinton. Mereka melakukan apapun untuk menghancurkan Trump," kata Giulliani.