Jumat 03 Mar 2017 20:11 WIB

Paslon Dilarang Kampanye Sebelum Penetapan Putaran Kedua Pilkada

Rep: Dian Erika Nugraheny/ Red: Bayu Hermawan
Ketua Bawaslu Jakarta Mimah Susanti
Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang
Ketua Bawaslu Jakarta Mimah Susanti

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Bawaslu DKI Jakarta, Mimah Susanti mengatakan pasangan calon (Paslon) yang berpeluang lolos di putaran kedua Pilkada DKI Jakarta belum boleh melalukan kampanye sebelum resmi ditetapkan oleh KPUD. Bawaslu DKI sudah menerima laporan dugaan kampanye oleh dua paslon sebelum resmi ditetapkan.

"Laporan tentang dugaan kampanye sudah kami terima, baik yang mengarah pada paslon Ahok-Djarot maupun Anies-Sandiaga Uno. Kedua pihak saling melapor," ujar Mimah di Kantor LBH, Jakarta Pusat, Jumat (3/3).

Mimah melanjutkan, berdasarkan PKPU Nomor 7 Tahun 2016, tahapan putaran pertama Pilkada masih berlaku. Tahapan yang dimaksud yakni penetapan masa tenang setelah 11 Januari.

Masa tenang tersebut tetap berlangsung hingga saat ini. Karena itu, kata Mimah, semua paslon yang sudah ditetapkan berpeluang lolos ke putaran kedua berdasarkan perolehan suara tidak diperkenankan berkampanye.

"Bahkan melakukan hal-hal yang mengarah kepada kampanye lewat forum tertentu pun tidak boleh. Semua harus menahan diri sampai penetapan masa kampanye putaran kedua Pilkada DKI Jakarta," tegasnya.

Terkait dengan laporan dugaan pelanggaran pelaksanaan kampanye, Bawaslu DKI akan menindaklanjuti sesuai mekanisme. Menurut Mimah, paslon yang terbukti berkampanye sebelum penetapan masa kampanye putaran kedua akan dikenai sanksi pidana.

Sementara itu, jika tidak terbukti, maka Bawaslu DKI akan merekomendasikan tindakan paslon sebagai pelanggaran administrasi. "Rekomendasi tersebut akan dilanjutkan ke KPUD DKI Jakarta," katanya.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Yuk Ngaji Hari Ini
يَسْتَفْتُوْنَكَۗ قُلِ اللّٰهُ يُفْتِيْكُمْ فِى الْكَلٰلَةِ ۗاِنِ امْرُؤٌا هَلَكَ لَيْسَ لَهٗ وَلَدٌ وَّلَهٗٓ اُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَۚ وَهُوَ يَرِثُهَآ اِنْ لَّمْ يَكُنْ لَّهَا وَلَدٌ ۚ فَاِنْ كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثٰنِ مِمَّا تَرَكَ ۗوَاِنْ كَانُوْٓا اِخْوَةً رِّجَالًا وَّنِسَاۤءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْاُنْثَيَيْنِۗ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اَنْ تَضِلُّوْا ۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ࣖ
Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah, “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu), jika seseorang mati dan dia tidak mempunyai anak tetapi mempunyai saudara perempuan, maka bagiannya (saudara perempuannya itu) seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mewarisi (seluruh harta saudara perempuan), jika dia tidak mempunyai anak. Tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki-laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sama dengan bagian dua saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, agar kamu tidak sesat. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

(QS. An-Nisa' ayat 176)

Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement