Selasa 05 Dec 2017 22:52 WIB

Pengamat: Golkar Harus Percaya Diri Pilih Ketum Baru

Partai Golkar (ilustrasi)
Foto: Republika
Partai Golkar (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat politik menilai petinggi Partai Golkar harus percaya diri tanpa melibatkan pemimpin negara guna menjalankan rencana pemilihan ketua umum (Ketum) pengganti Setya Novanto. Golkar tidak perlu menyeret Presiden dan Wapres dalam menyelesaikan persoalan internal.

"Golkar merupakan partai dinamis dan unik sehingga bisa bertahan hingga saat ini," kata pengamat politik dari Universitas Negeri Tirtayasa Banten Leo Agustino di Jakarta, Selasa (5/12).

Leo menyarankan Partai Golkar tidak perlu menyeret Presiden Jokowi atau Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk menyelesaikan persoalan internal. Justru, Leo berpandangan Presiden Jokowi harus mencermati pendekatan yang dilakukan petinggi Partai Golkar menjelang rencana pemilihan ketum pengganti Setya Novanto.

Leo beralasan setiap calon Ketum Partai Golkar memiliki agenda pribadi yang tidak diketahui aspirasi akar rumput atau masyarakat lain. Ia menyatakan Presiden Jokowi telah menegaskan tidak akan mencampuri urusan internal Partai Golkar, namun sejumlah elit politik tetap mendekati mantan Walikota Solo itu.

"Jokowi mewanti-wanti sejak awal meski dia tahu tabiat politikus kita," ujarnya.

Pengamat politik itu menegaskan Golkar membutuhkan pengganti Setya Novanto sebagai Ketum guna menghadapi agenda besar pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak 2018 dan Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.

Leo mengingatkan pemimpin Partai Golkar pengganti Novanto harus mengakomodir dan mengayomi seluruh kelompok kepentingan internal partai berlambang pohon beringin itu.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Yuk Ngaji Hari Ini
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِۗ وَاِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْاۗ وَاِنْ كُنْتُمْ مَّرْضٰٓى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَاۤءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَاۤىِٕطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَاۤءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاۤءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَيْدِيْكُمْ مِّنْهُ ۗمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْ حَرَجٍ وَّلٰكِنْ يُّرِيْدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur.

(QS. Al-Ma'idah ayat 6)

Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement