Sunday, 21 Syawwal 1443 / 22 May 2022

Sunday, 21 Syawwal 1443 / 22 May 2022

Kenaikan GWM, BNI Optimistis tak Pengaruhi Kinerja DPK

Ahad 23 Jan 2022 08:23 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Gita Amanda

 Bank Indonesia akan memberlakukan kebijakan pengurangan likuiditas atau tapering dengan menaikkan Giro Wajib Minimum (GWM) bagi perbankan mulai 1 Maret 2022.  (ilustrasi).

Bank Indonesia akan memberlakukan kebijakan pengurangan likuiditas atau tapering dengan menaikkan Giro Wajib Minimum (GWM) bagi perbankan mulai 1 Maret 2022. (ilustrasi).

Foto: ,
Kenaikan GWM dapat menjadi salah satu strategi menghadapi dampak Tapering the Fed

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia akan memberlakukan kebijakan pengurangan likuiditas atau tapering dengan menaikkan Giro Wajib Minimum (GWM) bagi perbankan mulai 1 Maret 2022. Melihat kebijakan tersebut, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk menilai GWM tidak akan mengganggu kapasitas perseroan untuk menjalankan fungsi intermediasi.

"Lagi pula, BNI merupakan salah satu bank yang pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK)-nya kuat, dengan dominasi dana murah selama pandemi, sehingga likuiditasnya selalu tersedia dengan pricing yang reliabel," ujar Sekretaris Perusahaan BNI, Mucharom ketika dihubungi Republika, Ahad (23/1/2022).

Baca Juga

Menurutnya kenaikan GWM juga dapat menjadi salah satu strategi menghadapi dampak tapering the Fed karena akan memosisikan tingkat inflasi ke level yang sehat. Terkait suku bunga acuan, lanjut Mucharom, perseroan memperkirakan suku bunga acuan akan dipertahankan konstan.

"Kenaikan suku bunga acuan mungkin terjadi di pertengahan tahun sebesar 50 bps. Hal ini didasari oleh kebijakan bank sentral yang seimbang antara stabilitas ekonomi dan pertumbuhan ekonomi," ucapnya.

Kendati demikian, menurutnya, perseroan juga menyadari jika dilakukan terlalu cepat baik dari sisi timing dan magnitude-nya, maka akan beresiko bagi momentum pertumbuhan ekonomi. Terlebih, dari sisi timing kenaikan suku bunga di Amerika Serikat.

"Kedua adalah kenaikan PPN sebesar satu persen mulai April dan diperkirakan terasa dampaknya ke inflasi satu hingga dua bulan berikutnya, sehingga pada Juni, rasanya momentum kenaikan suku bunga acuan menjadi lebih masuk akal," ucapnya.

Mucharom juga menjelaskan tingkat suku bunga acuan tentu selalu dihubungkan tingkat suku bunga kredit. Namun, perseroan dapat memastikan tingkat suku bunga kredit BNI akan tetap akomodatif dalam mendukung pertumbuhan ekonomi tahun ini.

"Suku bunga  kredit terbilang rendah dikarenakan pertumbuhan dana murah BNI seiring dengan optimalisasi digital banking," ucapnya.

Menurutnya perseroan juga dibekali dengan sistem credit scoring lebih baik, sehingga dapat menyalurkan kredit lebih kompetitif sambil tetap menjaga kualitasnya. "Dalam rencana bisnis 2022 BNI tetap optimistis mendorong fungsi intermediasi tetap lebih baik dari rata-rata industri perbankan," ucapnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile