Sunday, 4 Zulhijjah 1443 / 03 July 2022

Sunday, 4 Zulhijjah 1443 / 03 July 2022

4 Zulhijjah 1443
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Apakah Benar, Hitler Memiliki Darah Yahudi?

Jumat 13 May 2022 04:33 WIB

Red: Joko Sadewo

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, menyebut Hitler memiliki darah Yahudi. Foto ilustrasi Hitler di tengah lautan masa pada sebuah stadion sepakbola di Berlin.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, menyebut Hitler memiliki darah Yahudi. Foto ilustrasi Hitler di tengah lautan masa pada sebuah stadion sepakbola di Berlin.

Foto: Google.com
Rusia menuai kecaman setelah Menlu Lavrov mengungkit masa lalu pimpinan Nazi.

Oleh : Friska Yolandha, Jurnalis Republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, Awal bulan ini Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov membuat pernyataan yang cukup menyakiti hati bangsa Yahudi. Dalam sebuah wawancara dengan media Italia, Ahad (1/5/2022), Lavrov menyebut Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memiliki kesamaan dengan pimpinan Nazi Adolf Hitler. Mereka sama-sama keturunan Yahudi.

"Jadi bagaimana jika Zelenskyy adalah orang Yahudi? Fakta tersebut tidak meniadakan unsur Nazi di Ukraina. Saya percaya bahwa Hitler juga memiliki darah Yahudi. Ini sama sekali tidak berarti apa-apa. Orang Yahudi bijak mengatakan bahwa antisemit yang paling bersemangat biasanya adalah orang Yahudi," katanya.

Pernyataan itu sontak memantik kemarahan bangsa Yahudi, terutama di Israel. Mereka menuntut Rusia untuk meminta maaf atas pernyataan tersebut.

"Pernyataan Menlu Lavrov adalah pernyataan yang tidak dapat dimaafkan dan keterlaluan serta kekeliruan sejarah yang mengerikan. Kami mengharapkan permintaan maaf," kata Menlu Israel Yair Lapid, Senin (2/5/2022).

Lapid menilai pernyataan itu sangat merendahkan ingatan tentang Holocaust. Sementara, Zelenskyy mengatakan Lavrov melupakan semua pelajaran dari Perang Dunia kedua.

Setelah kekacauan tersebut, pada Kamis (5/5/2022), Perdana Menteri Israel Naftali Bennet mengatakan Presiden Rusia Vladimir Putin telah meminta maaf atas pernyataan Lavrov. Bennet juga mengungkapkan terima kasih atas 'klarifikasi' Putin terkait hal tersebut.

Pernyataan Lavrov yang memicu pertikaian diplomatik itu mengangkat kembali desus tentang idenditas kakek dari pihak ayah Hitler. Sejarawan Austria Roman Sandgruber mengatakan ayah Hitler, Alois, adalah anak di luar pernikahan yang ayahnya tidak diketahui. Kepada AFP, Sandgruber mengatakan desas-desus mulai beredar pada 1920-an, ketika Adolf Hitler mulai naik ke tampuk kekuasaan.

Setelah Perang Dunia II, memoar Hans Frank, penjahat perang Nazi, menghidupkan kembali cerita itu. Dalam memoar yang diterbitkan setelah eksekusi Frank pada 1946, disebutkan dia diminta meneliti leluhur Hitler secara diam-diam. Pada saat itu, Hitler tengah ditekan oleh keponakannya atas masalah ini. Keponakan tersebut mengancam akan mengungkap latar belakang Yahudi Hitler.

Nenek dari pihak ayah Hitler, Maria Anna Schicklgruber, melahirkan Alois pada 1837. Frank mengatakan ia menemukan bahwa saat itu Schicklgruber bekerja sebagai juru masak untuk sebuah keluarga Yahudi yang bernama Frankenberger di Kota Graz, Austria.

Ada rumor yang mengatakan kalau ia dihamili oleh salah satu anggota keluarga tersebut. Akan tetapi, tidak ada bukti konkret akan isu tersebut.

Sandgruber melanjutkan, tidak ada pula bukti kuat mendukung klaim Frank. Pasalnya, pada saat itu, orang Yahudi tidak memiliki hak untuk tinggal di Graz.

Jadi, siapa kakek Hitler?

"Ini adalah pertanyaan tanpa jawaban," tulis sejarawan Ofer Aderet di surat kabar Israel, Haaretz, dilansir NDTV.

Beberapa Nazi masih menayangkan teori ini sebagai upaya untuk memberikan alibi atas kekalahan mereka dalam Perang Dunia II. Laporan lain mengklaim bahwa penyiksaan terhadap Yahudi merupakan tindakan dari rasa malu Hitler terhadap darah Yahudinya.

"Bagaimanapun, tidak ada bukti sejarah untuk semua ini," tegas Aderet.

Rusia memiliki sejarah panjang karena antisemit. Usai jatuhnya Uni Soviet, retorika terkait anti-Yahudi meningkat, meskipun dalam pemerintahan Putin hal itu mulai berkurang. Time pada Kamis (3/5/2022) menulis, Putin sendiri menghindari kata antisemit, berpose dengan kepala Rabi Rusia, dan sering mengutip pemikir beraliran antisemit Rusia.

Namun, para pakar menilai salah untuk menyatakan komentar Lavrov sebagai blunder belaka. Terlepas dari desakan Rusia bahwa Ukraina harus didenazifikasi, pemerintahan Putin bersedia menggunakan konspirasi antisemit jika merasa cocok.

Oliber Bullough, penulis 'Looting Ukraine: How East and West Teamed Up to Steal a Country' mengatakan kepada Time bahwa komentar Lavrov mencerminkan pola pikir konspirasi yang aneh dan irasional bagi sebagian pejabat senior Rusia. Meski begitu, jarang ada pejabat senior Kremlin bicara terbuka menyuarakan pandangan seperti yang Lavrov lakukan.

Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile