Saturday, 15 Muharram 1444 / 13 August 2022

Saturday, 15 Muharram 1444 / 13 August 2022

15 Muharram 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

Perang Rusia-Ukraina Ancam Ketahanan Pangan Timur Tengah dan Afrika  

Rabu 11 May 2022 20:30 WIB

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Nashih Nashrullah

Ilustrasi suasana kawasan Perang Rusia-Ukraina. Pasokan bahan pangan di Timur Tengah dan Afrika terancam buntut perang Rusia-Ukraina

Ilustrasi suasana kawasan Perang Rusia-Ukraina. Pasokan bahan pangan di Timur Tengah dan Afrika terancam buntut perang Rusia-Ukraina

Foto: AP/Emilio Morenatti
Pasokan bahan pangan di Timur Tengah dan Afrika terancam buntut perang Rusia-Ukraina

REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL–Perang Rusia-Ukraina yang sedang berlangsung dinilai membahayakan ketahanan pangan di negara-negara di Timur Tengah dan Afrika. Terutama negara dari wilayah tersebut yang berpenghasilan rendah.  

Kepala International Association of Operative Millers (IAOM) Eurasia, Eren Gunhan Ulusoy, mengatakan beberapa negara di Afrika meminta bantuan karena tidak dapat menemukan sumber daya yang cukup untuk impor gandum. 

Baca Juga

Perang yang dimulai pada 24 Februari lalu itu, telah menyebabkan kenaikan harga komoditas yang signifikan, terutama untuk makanan seperti gandum, jagung, dan biji bunga matahari. 

Dilansir dari Anadolu Agency, Rabu (11/5/2022), menurutnya, harga gandum sekitar Rp 5 juta per ton sebelum perang. Awalnya hanya naik menjadi Rp 5,8 juta dan kemudian melonjak menjadi Rp 7,3 juta, melebihi harga tertinggi yang tercatat pada 2008, kata Ulusoy. 

“Kenaikan harga gandum mempengaruhi semua negara pengimpor gandum, karena hampir setiap benua di dunia memiliki negara yang tidak dapat memproduksi gandum karena kondisi iklim,” katanya. 

Sementara tahun lalu ada penurunan produksi gandum secara global, tahun ini ada beberapa ekspektasi positif di sisi pasokan karena produksi yang kuat, katanya lebih lanjut. 

Sementara Turki dapat swasembada gandum ketika memiliki musim produktif di bawah kondisi iklim yang baik, katanya. Namun, produksinya turun menjadi 17,6 juta ton akibat musim kemarau lalu. 

Dia mengatakan musim ini, Turki harus mengimpor sekitar 9 juta ton gandum untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan mengekspor produk tepung. Negara ini adalah pengekspor tepung terbesar di dunia dan pengekspor pasta terbesar kedua di dunia. 

Krisis belum menyebabkan gangguan dalam pasokan gandum dari Rusia tetapi Ukraina telah menghentikan ekspor, kata Ulusoy. Dikatakannya juga bahwa banyak negara pemasok yang menjadi alternatif Rusia dan Ukraina seperti negara Baltik, Argentina, Amerika Serikat, dan Australia. 

"Faktanya, India, salah satu negara penghasil gandum terpenting di dunia selama pandemi, mulai mengekspor gandum untuk mengubah krisis menjadi peluang," tambahnya. 

Dengan demikian, tidak ada masalah pasokan bahan baku impor untuk ekspor tepung Turki, tegasnya. "Selain itu, ada transisi dari pasar ekspor Ukraina ke Turki karena penangguhan paksa ekspor tepung," katanya.  

"Akibatnya, kami berharap ekspor tepung Turki mencapai lebih dari 3 juta ton," tambahnya.   

Baca juga : Wilayah Pro Rusia di Ukraina Timur Blokir Facebook dan Instagram

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
hide ads show ads
desktop mobile