Monday, 4 Jumadil Awwal 1444 / 28 November 2022

Monday, 4 Jumadil Awwal 1444 / 28 November 2022

4 Jumadil Awwal 1444
  • JELANG HUT BHAYANGKARA KE-76,< POLRI MENGADAKAN LOMBA MENEMBAK PATI TNI-POLRI BERSAMA INSAN PERS 10-11 JUNI 2022 DI BRIMOB KELAPA DUA

MUI Disarankan Perkuat Narasi di Pemilu 2024

Sabtu 20 Aug 2022 23:01 WIB

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Agung Sasongko

Gedung MUI

Gedung MUI

Foto: MUI
Narasi yang perlu diperkuat yaitu merajut kesatuan dan persatuan.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Pakar Komunikasi Politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr Gun Gun Heryanto, menyarankan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk memperkuat narasi di pemilu 2024. Narasi yang perlu diperkuat yaitu membangun pemahaman seperti pada Milad ke-47 MUI beberapa waktu lalu yakni ukhuwah kebangsaan, merajut kesatuan dan persatuan.

"Ini adalah peran MUI yang perlu diperbanyak, karena biasanya jelang kontestasi elektoral ada polarisasi yang mengeras dan menajam," kata Gun Gun, dilansir dari laman resmi MUI, Sabtu (20/8/2022).

Gun Gun yang juga Wakil Ketua Komisi Infokom MUI ini menilai, polarisasi tersebut akan lebih tajam jika ada pemicunya. Oleh karenanya, penguatan narasi dan manajemen komunikasi oleh MUI harus diperkuat sambil diiringi kerja sama dengan berbagai pihak.

"Terutama soal himayatul ummah (pengayom masyarakat), khadimul ummah (pelayanan umat), dan shodiqul hukumah (mitra pemerintah)," ujar Ketua Pokja Media Watch Komisi Infokom MUI.

Gun Gun mengatakan, jelang perhelatan politik biasanya akan muncul narasi-narasi seperti bagaimana posisi agama dan negara, posisi Islam dengan partai politik, dan hoaks. Narasi tersebut biasanya sangat cepat menyebar ke khalayak luas.

Gun Gun menyarankan, MUI harus bisa bicara bukan hanya soal eksistensi, melainkan jangka panjang yang merepresentasikan basis nilainya dengan mengeluarkan narasi yang lebih sejuk. Hal ini perlu dilakukan untuk menciptakan situasi yang terkontrol agar tidak melahirkan konflik yang non realistis.

Ia mengatakan, dalam politik tidak bisa menghindari yang namanya konflik. Tetapi, sebisa mungkin konflik yang terjadi adalah konflik realistis.

"Konflik yang bisa diselesaikan oleh koridor hukum, musyawarah dan pendekatan organisasi. Bukan selalu dengan kekerasan apalagi memicu penularan perilaku yang tidak bisa dikontrol," jelasnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

f
 

BERITA LAINNYA

 
 
 
 
 
hide ads show ads
desktop mobile