REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- BBM atau bensin yang menjadi bahan bakar utama kendaraan bermotor merupakan produk dari proses panjang pengolahan minyak bumi. Bagaimana sejatinya proses minyak bumi yang berada di ratusan kilometer di bawah permukaan tanah bisa menjadi bensin?
Dalam teknologi migas, proses minyak mentah menjadi bensin setidaknya terbagi menjadi tiga kantung proses. Proses di hulu, meliputi eksplorasi wilayah, pengeboran minyak hingga pengangkatan minyak dari sumur ke dalam pipa atau wadah penyimpanan.
Lalu ada proses di tengah atau istilah yang kerap dipakai dalam lingkup industri minyak dan gas (migas) adalah midstream. Proses midstream ini atau pengolahan adalah proses pemurnian dan penyulingan minyak mentah dari zat kimiawi alami, seperti sulfur maupun karbondioksida menjadi bensin. Istilah pengolahan atau disebut blending inilah yang menjadi kunci utama proses mengubah dari minyak mentah menjadi laik pakai khususnya untuk kendaraan bermotor.
Proses pengolahan ini setidaknya memiliki tiga proses. Pertama, distilasi atau penyulingan tahap awal. Minyak mentah dari bumi yang disalurkan oleh pipa ke tabung tabung besar kemudian dipanaskan dalam suhu tertentu. Melalui proses pemanasan ini, campuran hidrokarbon dan minyak akan terpisah. Uap uap kecil yang dihasilkan dari proses pemanasan ini menjadi produk seperti nafta, gas serta kerosin dan solar.
Tahap kedua, adalah konversi. Dari uap bentuk nafta, gas, kerosin dan solar ini kemudian dipecah sesuai dengan kandungan zat dan hidrokarbon yang terkandung. Proses ini memakai teknologi cracking katalitik yaitu penggunaan penguapan suhu tinggi sehingga residu berat dari minyak mentah menjadi produk yang lebih ringan lagi.
Pada tahap kedua ini, nafta atau bensin sudah terbentuk. Hanya saja, kandungan sulfurnya masih sangat tinggi.
Jenis minyak bumi di Indonesia yang kaya akan kandungan sulfur ini memang belum layak menjadi bahan bakar di mobil maupun motor. Maka, ekstrasi nafta ini diperlukan melalui teknologi reforming katalitik menggunakan senyawa logam mulia yang membentuk kadar oktan tertentu.
Oktan sendiri dimaksudkan adalah standar kadar sulfur tertentu yang menentukan standar "kualitas yang lebih baik". Oktan, atau disebut RON inilah yang kemudian membedakan jenis jenis bensin. Ada yang RON 90 biasa disebut Pertalite, RON 92 disebut Pertamax, dan RON 98 disebut Pertamax Turbo.
Tahap ketiga, yaitu blending atau pengolahan lanjutan. Selain cracking dan reforming, kilang dilengkapi unit treating untuk menghilangkan kontaminan dan memenuhi spesifikasi mutu. Pencampuran atau pengoplosan senyawa kimia digunakan untuk menyingkirkan sulfur dan kotoran untuk menciptakan kadar oktan yang layak.
Ini penting karena minyak mentah yang diolah sering kali mengandung sulfur tinggi, sehingga perlu proses hydrotreating agar produk BBM memenuhi standar sulfur rendah.
Dari proses kedua dan ketiga inilah, kemudian produk seperti bensin premium, pertalite, pertamax (dengan berbagai RON) serta solar kemudian dicampur (blending) jika perlu untuk mencapai spesifikasi final yang tepat (misal mencampur komponen hasil reforming, FCC, alkilat, ethanol tambahan) sehingga menjadi bahan baku yang laik konsumsi untuk mobil dan motor.
Setelah BBM dihasilkan di kilang, tahap berikutnya dalam proses bisnis Pertamina adalah distribusi atau pemasaran BBM kepada konsumen. Produk BBM dari tangki penyimpanan kilang disalurkan ke jaringan distribusi Pertamina yang mencakup Terminal BBM (TBBM) dan SPBU di seluruh Indonesia. TBBM ini biasa disebut Depo.
BBM diangkut dari kilang ke terminal-terminal ini menggunakan moda transportasi pipa, kapal tanker, atau truk tangki, tergantung jarak dan kondisi geografis. Sebagai contoh, BBM dari Kilang Cilacap dapat disalurkan ke Terminal Tanjung Priok Jakarta melalui kapal tanker laut, sedangkan dari Kilang Balongan ke daerah Jawa Barat via pipa.
Terminal BBM atau Depo ini berfungsi sebagai pusat penyimpanan sementara dan penyaluran regional. Dari depo ini kemudian disalurkan keseluruh SPBU sesuai dengan tangki yang sesuai dengan jenis RON tertentu. Jika dicampur, maka akan merusak kandungan oktan itu sendiri.