Jumat 28 Feb 2025 09:22 WIB

IDF Resmi Akui Pakai Protokol Hannibal yang Bunuh Warganya Sendiri

IDF mengeluarkan laporan resmi soal kegagalan pada 7 Oktober 2023.

Seorang tentara Israel keliru mengira dia mendengar sirene serangan udara dan melompat ke tanah untuk berlindung di Kibbutz Be
Foto: AP Photo/Ohad Zwigenberg
Seorang tentara Israel keliru mengira dia mendengar sirene serangan udara dan melompat ke tanah untuk berlindung di Kibbutz Be

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV – Militer Israel akhirnya mengakui bahwa angkatan udaranya menerapkan Protokol Hannibal terkait serangan pejuang Palestina ke Israel pada 7 Oktober 2023. Militer Israel dilaporkan menembaki ‘apa pun yang bergerak’ di sepanjang perbatasan Gaza untuk mencegah penangkapan tentaranya.

Dalam laporan resmi soal kegagalan pada 7 Oktober 2023 yang dilansir kemarin, militer Israel untuk pertama kalinya mengakui bahwa angkatan udaranya menerapkan Protokol Hannibal yang kontroversial pada hari itu, demikian yang dilaporkan surat kabar Israel Jerusalem Post pada Kamis. Prosedur kontroversial ini, termasuk pembunuhan terhadap tahanan dan penculiknya, dilaporkan dikeluarkan sekitar pukul 10.30, di tengah serangan di sepanjang perbatasan Israel-Gaza.

Baca Juga

Petunjuk Hannibal adalah protokol militer kontroversial yang mengizinkan penggunaan senjata tanpa pandang bulu, bahkan terhadap warga sipil Israel sendiri, dalam upaya mencegah penangkapan tentara Israel. 

Meskipun para pejabat secara historis enggan mengakui penerapannya, penggunaannya telah didokumentasikan dalam operasi militer di masa lalu, khususnya dalam operasi militer melawan Gaza dan Lebanon.

Menurut Jerusalem Post, pada tanggal 7 Oktober, angkatan udara Israel “menembak apapun yang bergerak” di sepanjang perbatasan. Pasukan Israel melancarkan sekitar 945 serangan udara dan menembakkan 11.000 kali dari helikopter, yang mengakibatkan banyak korban jiwa, tambah laporan itu. Ini berarti dari sekitar 1.200 sipil dan militer Israel yang tewas hari itu, diantaranya karena tembakan militer Israel sendiri.

The Jerusalem Post juga memberikan kronologi kejadian pada hari itu. Pada pukul 05.30. pejuang Palestina melancarkan serangan ke Israel selatan di bawah serangan roket dan serangan drone. Kemudian pada 06.30 perlawanan Palestina menerobos pertahanan perbatasan Israel di beberapa titik.

Pada 07.30, markas depan militer Israel di Kibbutz Re’im diserbu. Pukul 08.00 pejuang Palestina mulai memindahkan tawanan Israel ke Gaza. Baru pada 10.30 – Angkatan udara Israel memulai Protokol Hannibal, menembaki sasaran bergerak di sepanjang perbatasan.

Menurut laporan itu, militer Israel akan merilis temuan penyelidikan internalnya antara 25 Februari dan 4 Maret, sebelum penunjukan kepala staf baru, Mayjen Eyal Zamir, pada 5 Maret. Investigasi ini akan mengkaji kegagalan militer, rantai komandonya, dan keputusan yang mengarah pada operasi besar-besaran Palestina.

Pada tanggal 7 Februari, mantan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant telah mengkonfirmasi laporan sebelumnya mengenai penggunaan prosedur militer Israel yang kontroversial. Dalam wawancara pertamanya sejak dipecat November lalu, Gallant ditanya oleh Channel 12 Israel apakah perintah telah diberikan untuk menerapkan kebijakan tersebut pada hari itu.

“Saya pikir secara taktis di beberapa tempat memang demikian, di tempat lain tidak, dan itu menjadi masalah,” jawabnya dalam wawancara.

Pada awal Desember 2023, mantan pemimpin Partai Buruh Israel Shelly Yachimovich menyerukan penyelidikan terhadap penerapan Protokol Hannibal' yang dilakukan tentara Israel di kota-kota Israel di sekitar Jalur Gaza pada tanggal 7 Oktober, Aljazirah Arab melaporkan.

“Ada kampanye kekerasan untuk mencegah penyelidikan/pembicaraan tentang peristiwa neraka di mana Brigadir Jenderal Hiram memerintahkan sebuah tank untuk menembak dan menyerbu rumah di Bari, dengan sengaja membunuh 12 sandera, termasuk anak-anak. Hannibal akan berguling-guling di kuburnya,” tulis Yachimovich di X.

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement