REPUBLIKA.CO.ID, BOROBUDUR--Balai Konservasi Peninggalan Borobudur (BKPB) hanya mengizinkan wisatawan naik hingga lantai tujuh dari dari total 10 lantai dan stupa induk candi ini pascaletusan Gunung Merapi. "Hari ini (20/12) kami buka hingga lantai VII, sedangkan lantai VIII, IX, dan X, serta stupa induk masih dalam penanganan untuk pemulihan dan konservasi pascaletusan Merapi," kata Kepala BKPB Marsis Sutopo di Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Senin (0/12).
Pembukaan Candi Borobudur untuk wisatawan hingga lantai VII yang antara lain disaksikan Wakil Kepala Unit Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB), Puji Santoso, sejumlah pegawai BKPB, dan wisatawan nusantara maupun mancanegara itu secara simbolis oleh Marsis dengan membuka pintu besi di tangga timur. Setelah pintu itu dibuka, para wisatawan yang umumnya kalangan pelajar berasal dari sejumlah kota dan beberapa wisman, secara tertib naik ke candi itu hingga lantai VII.
Beberapa tempat di tangga menuju lantai VIII dipalang dengan papan yang bertuliskan larangan naik ke tempat yang lebih tinggi karena masih lanjutan proses konservasi pascaletusan Merapi. Letusan intensif Merapi mulai akhir Oktober hingga pertengahan November 2010. Ia mengatakan, petugas mulai membersihkan berbagai tempat di candi dari abu vulkanik Merapi pada candi yang dibangun sekitar abad ke-8 masa pemerintahan Dinasti Syailendra itu, pada 27 Oktober 2010 atau sehari setelah letusan pertama Merapi.
Merapi kini tidak lagi meletus meskipun status aktivitas vulkanik gunung berapi di perbatasan antara Jateng dengan Daerah Istimewa Yogyakarta itu masih 'siaga' atau satu level di bawah status tertinggi 'awas'. Setelah penanganan tanggap darurat Candi Borobudur yang terkena dampak letusan Merapi selama ini, katanya, Borobudur bisa dikunjungi wisatawan lagi. "Wisatawan supaya tahu keadaan Borobudur yang terkena dampak Merapi," katanya.
Konservasi lanjutan Borobudur dari dampak letusan Merapi, katanya, hingga saat ini masih dilakukan petugas sehingga ada lokasi candi yang telah dibuka untuk wisatawan dan sebagian kecil lainnya masih tertutup. Tali plastik yang selama ini mengelilingi pelataran Borobudur sebagai pembatas wisatawan dengan bangunan candi itu, katanya, akan segera disingkirkan karena wisatawan telah boleh naik ke Borobudur hingga lantai VII.
Ia menyatakan memperkirakan, seluruh bangunan candi di antara aliran Kali Elo dengan Progo, Kabupaten Magelang itu sudah bisa dikunjungi pada akhir Desember 2010. Total petugas dan relawan yang telah terlibat dalam pembersihan candi dari abu vulkanik sekitar dua ribu orang.
Sejak 6 Desember 2010, katanya, konservasi lanjutan melibatkan antara 40 hingga 50 personel antara lain berasal dari petugas BKPB dan masyarakat sekitar Candi Borobudur. "Saat ini pekerja masih membersihkan sisa abu di dinding candi, kemudian akan dilanjutkan dengan pembersihan drainase. Tetapi wisatawan sudah bisa naik ke candi," katanya.
Pada kesempatan itu ia juga menjelaskan tentang pelaksanaan program BKPB menambal bagian candi di sisi barat laut yang bocor atau terjadi rembesan air. Ia mengatakan, penambalan bagian lantai yang bocor menggunakan aspal dan lembaran bahan timah hitam.
Pihaknya selama beberapa waktu terakhir ini telah memperbaiki sebanyak 112 lokasi candi itu terutama bagian relief lantai III yang mengalami rembesan air, sedangkan pada 2011 direncanakan melanjutkan untuk dua bidang candi itu yang mengalami peristiwa serupa.
Ia menjelaskan, ancaman terhadap batuan candi antara lain berasal dari cuaca ekstrem, binatang, tumbuhan seperti lumut, dan aktivitas manusia. "Kalau cuaca ekstrem, batuan akan mengalami kembang kempis secara cepat sehingga mempercepat proses pelapukan," katanya.