Selasa 03 Jan 2017 14:37 WIB

Kemenhub Pecat Syahbandar Muara Angke

Red:

Foto : Antara  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

JAKARTA -- Ditjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan memberhentikan Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Muara Angke, Deddy Junaedi, Senin (2/1). Pemecatan itu dilakukan terkait peristiwa terbakarnya Kapal Motor (KM) Zahro Express, Ahad (1/1). Kapal terbakar di perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, dan menyebabkan 23 penumpang meninggal.

Dirjen Perhubungan Laut Tonny Budiono menyebutkan, pemberhentian efektif berlaku tanggal 3 Januari 2017 dan merupakan perintah Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi. Keputusan itu diambil dalam rapat terbatas penanganan Kecelakaan KM Zahro Express di Kantor Pusat Kementerian Perhubungan, kemarin. "Menteri Perhubungan memberikan arahan agar kepala Kantor KSOP Kelas III Muara Angke diberhentikan dari jabatannya sebagai pejabat yang menerbitkan Surat Izin Berlayar (SPB)," ujar Tonny di Kantor Kemenhub.

KM Zahro Express terbakar 15 menit setelah lepas jangkar dari Dermaga Muara Angke menuju Pulau Tidung, Kepulauan Seribu.  Jumlah penumpang kapal yang telah diketahui nasibnya sebanyak 184 orang.

Saat asap keluar dari mesin kapal, seorang anak buah kapal (ABK) disebut meloncat ke luar kapal. Hal tersebut menimbulkan kepanikan para penumpang yang kemudian berdesak-desakan dan sebagian di antaranya meninggal.

Korban meninggal akibat kecelakaan tersebut tercatat sebanyak 23 orang. Sebanyak 22 penumpang juga terluka dan harus menjalani perawatan. Sedangkan 130 lainnya ditemukan selamat.

Kementerian Perhubungan sejauh ini mengindikasikan, jumlah penumpang melebihi kapasitas kapal motor dari kayu dan fiberglass tersebut. Kemenhub juga menemukan ada ketaksesuaian manifes dengan jumlah penumpang.

Selain pemberhentian KSOP Muara Angke, Menteri Perhubungan juga membuat arahan agar Dirjen Perhubungan Laut memberikan surat peringatan tertulis kepada pemilik perseorangan KM Zahro Express, Yodi Mutiara Prima dan nakhoda Mohammad Ali. Mereka dianggap lalai dalam pengawasan yang menyebabkan jatuhnya korban dalam musibah terbakarnya kapal tersebut.

Menteri Perhubungan juga menginstruksikan kepada Direktur Jenderal Perhubungan Laut agar melakukan klarifikasi kapal-kapal yang beroperasi di wilayah tersebut dan seluruh Indonesia. Tony menambahkan, baik korban meninggal maupun korban luka, akan mendapatkan santunan dari Jasa Raharja sebagaimana ketentuan yang berlaku.

Ketua Sub Komite Investigasi Kecelakaan Pelayaran Indonesia Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Kapten Aldrin Dalimunthe, mengatakan, api pada kebakaran KM Zahro Express diduga berasal dari jaringan listrik pendingin ruangan (AC) kapal. "Ada indikasi sumber api berasal dari jaringan listrik pada air conditioner kapal. Namun, temuan ini diduga baru salah satu penyebab saja," ujar Aldrin ketika dihubungi Republika, Senin (2/1).

KNKT masih akan memeriksa sejumlah hal, baik faktor manusia maupun dugaan penyebab lain. Investigasi KNKT dimulai pada Ahad (1/1) malam. Kemarin pagi, KNKT juga melakukan analisis dengan mendalami kondisi pada kapal sejenis KM Zahro Express.

Petugas KNKT melakukan pengamatan pada struktur kapal, permesinan, kelistrikan, mendatangi lokasi pembuatan kapal dan melakukan wawancara dengan pemilik kapal, penumpang, serta warga setempat. "Semua temuan akan kami analisis untuk mempertajam beberapa indikasi penyebab terbakarnya kapan," kata Aldrin.

KM Zahro Express dibuat pada 2013. Kapal ini berbahan utama kayu dan dilapisi oleh fiberglass. KM Zahro Express merupakan jenis kapal antarpulau yang diperuntukkan bagi penyeberangan jarak dekat.

Nasib penumpang

Sebanyak 13 orang yang merupakan keluarga besar asal Lembang, Kabupaten Bandung Barat, turut serta menjadi korban dari KM Zahro Express yang terbakar. Sebanyak delapan orang sudah ditemukan dan dirawat sementara lima orang masih hilang.

Nuri Cahyaningsih, salah satu kerabat, mengatakan, Eha Julaeha (55 tahun) yang menjadi korban kecelakaan rencananya berangkat liburan ke Pulau Tidung bersama anak dan menantu. "Wak Eha pas lagi berangkat itu lagi sakit, cuma karena ingin membahagiakan anak-anaknya jadi berangkat," ujarnya kepada Republika saat ditemui di kediamannya di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, kemarin.

Ia mengatakan, kaget saat mendengar informasi keluarga besar Pak Dadin Suganda (65) turut serta menjadi korban. Selama ini, menurut dia, keluarga tersebut biasa menyambut tahun baru dengan makan-makan di rumah dan baru kali ini keluar daerah untuk liburan.

Keluarga besar Pak Dadin sebanyak 13 orang berangkat liburan menuju Pulau Tidung dari Lembang menggunakan dua mobil pada Sabtu (31/12) sekitar pukul 23.00 WIB malam. Anita Agustini (32), kerabat keluarga korban mengatakan, keluarga Pak Dadin sudah merencanakan pergi ke Pulau Tidung sejak dua bulan yang lalu. Saat ini, ibunya yang tak ikut berlibur tengah berangkat ke Jakarta untuk tes DNA guna keperluan identifikasi korban. rep: Ahmad Islamy Jamil, Intan Pratiwi Muhammad Fauzi Ridwan/Ahmad Islamy Jamil ed: Fitriyan Zamzami

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement