Tahun 2016 mungkin dapat disebut tahun penuh berita palsu. Terlebih, media sosial kian banyak penggunanya di muka bumi.
Digosipkan sakit kemudian meninggal ternyata baru saja dialami Ratu Elizabeth II dari Inggris. Sebuah akun Twitter, @BBCNewsUKI, mengklaim Istana Buckingham mengumumkan kematian sang ratu. "Penyebabnya masih belum diketahui," tulis akun tersebut. "Perinciannya akan menyusul."
Tak disangka, banyak orang percaya. Pertama, karena sang ratu sudah berusia 90 tahun. Ditambah lagi, baru-baru ini ia dikabarkan sakit-sakitan. Tahun ini, untuk pertama kalinya dalam tiga dekade, Ratu Elizabeth II tidak hadir dalam misa Natal di Norfolk.
Kemudian, jika sang ratu wafat, maka BBC yang akan menyampaikan pengumumannya. Kenyataannya, BBC memang melakukan latihan rutin jika ada anggota keluarga kerajaan meninggal mendadak.
Namun, cicitan Twitter itu tentu saja tidak berdasarkan fakta. Akun tersebut palsu dan Twitter pun langsung memblokirnya. Sayangnya, rumor itu tidak berhenti, bahkan sempat menjadi trending topic. Banyak akun di dunia maya menyampaikan dukacita, sedangkan sebagian yang lain berusaha melakukan verifikasi.
Lantas, bagaimana kabar sebenarnya tentang sang Ratu?
Flu berat
Ratu Elizabeth II memang diberitakan mengalami flu berat. Ia tidak hadir dalam misa Natal di gereja yang merupakan acara rutin utama setiap tahun keluarga Kerajaan Inggris. Karena itu, ia juga tidak dapat bertemu dengan orang-orang yang ingin melihatnya. Demikian dalam perayaan tahun baru di Gereja Inggris.
Anak perempuannya, Putri Anne, mengatakan kepada sejumlah simpatisan di luar acara itu bahwa ibunya kini masih beristirahat dan sudah berada dalam kondisi lebih baik dari sebelumnya, Ahad (1/1).
Selama ini, ratu yang memilki nama lengkap Elizabeth Alexandra Mary itu disebut memiliki kondisi kesehatan baik. Dalam satu tahun terakhir, ia terus melakukan berbagai kegiatan publik meski belakangan mulai mengurangi perjalanan ke luar negeri.
Istana Buckingham mengatakan, saat ini ratu sedang dalam masa pemulihan dari flu berat. Namun, tidak ada hal lain yang perlu dikhawatirkan, demikian juga dengan sang suami, Pangeran Philip, yang juga beristirahat karena sakit serupa.
Di balik berita mengenai kondisi kesehatan perempuan berusia 90 tahun itu, ia menjadi seorang yang sangat terkenal di dunia. Ratu Elizabeth II merupakan pemimpin Kerajaan Inggris, yang juga menjadi ratu monarki konstitusional dari 16 negara berdaulat yang dikenal sebagai Alam Persemakmuran. Termasuk juga sebagai ketua dari tujuh negara persemakmuran yang sudah merdeka, seperti Kanada, Australia, Selandia Baru, Afrika Selatan, Pakistan, dan Sri Lanka.
***
Tak Diprediksi Menjadi Ratu
Elizabeth merupakan anak pertama dari Pangeran Albert dan istrinya, Elizabeth Angela Marguerite Bowes Lyon. Sang ayah merupakan anak kedua dari Raja George V dan Ratu Mary, sedangkan ibunya adalah putri bungsu bangsawan Skotlandia.
Ia menjadi ratu dengan masa pemerintahan terlama sepanjang sejarah Monarki Britania Raya. Selama 64 tahun, Elizabeth memimpin Kerajaan Inggris mengalahkan masa jabatan nenek buyutnya, Ratu Victoria, yang memerintah selama 63 tahun. Ia juga dianggap sebagai pemecah rekor Raja Thailand Bhumibol Adulyadej yang menjadi penguasa monarki selama 70 tahun dan tutup usia pada 13 Oktober 2016 lalu.
Ratu Elizabeth II mendapatkan gelar setelah kelahirannya, yaitu Her Royal Highness Princess atau Yang Mulia Putri Elizabeth dari York. Namun, ia sebenarnya memiliki begitu banyak gelar kehormatan di Inggris dan luar negeri termasuk di Negara Persemakmuran. Sedangkan, dalam percakapan, ia cukup dipanggil "Your Majesty", lalu ia dapat dipanggil "Ma'am".
Ia berada dalam posisi ketiga garis suksesi takhta kerajaan setelah pamannya, Edward VIII, yang merupakan Prince of Wales dan ayahnya, Pangeran Albert, Duke of York. Pada mulanya, Elizabeth tidak diunggulkan untuk menjadi ratu karena Pangeran Wales yang masih sangat muda. Saat itu ia juga diprediksi akan menikah dan kelak memiliki penerus sendiri.
Namun, Edward naik takhta menjadi raja setelah Raja George V meninggal pada 1936. Posisi Elizabeth secara otomatis bergeser menjadi orang kedua di garis takhta setelah ayahnya.
Pada tahun yang sama, Edward turun takhta karena ingin menikahi seorang sosialita Amerika bernama Wallis Simpson. Sang Raja rela melepaskan gelar kebangsawannya untuk menikahi Simpson.
Tindakannya memicu krisis konstitusional di lingkungan kerajaan dan ayah Elizabeth kemudian menjadi raja dan mendapatkan gelar sebagai Raja George VI.
Perempuan kelahiran 21 April 1926 secara langsung menjadi penerus takhta kerajaan. Namun, jika kedua orangt uanya memiliki anak laki-laki, maka posisi yang ia miliki akan tergantikan.
Sebagai putri mahkota, Elizabeth mulai melaksanakan tugas sosial selama masa Perang Dunia II. Pada September 1939, London berulang kali diserang bom dan banyak anak-anak di Ibu Kota Inggris itu yang harus dievakuasi.
Namun, Elizabeth dan keluarganya tetap tinggal di Inggris. Sang ibu sebelumnya menolak saran untuk memindahkan anak-anaknya ke Kanada hingga kondisi keamanan membaik oleh politisi senior di negara itu bernama Lord Hailsham.
Kondisi keamanan yang mencekam saat itu membuat Elizabeth bersama adiknya, Margaret Rose atau yang dikenal sebagai Putri Margaret untuk sementara waktu berada di Istana Balmoral, Skotlandia, hingga kemudian pindah ke Sandringham House di Norfolk dan kemudian tinggal di Istana Windsor pada Mei 1940.
Di Windsor, Elizabeth dan Margaret kemudian mulai berpartisipasi untuk membantu Inggris dalam Perang Dunia II. Kemudian, saat berusia 14 tahun pada 1940, Elizabeth juga melakukan siaran radio pertama untuk menghibur seluruh anak-anak Inggris. Ia memberikan semangat agar mereka semua dapat menghadapi kondisi perang yang mengerikan.
"Kita semua harus berusaha melakukan apa pun untuk membantu pelaut, tentara, dan penerbang yang gagah berani dan menjauhkan diri dari bahaya serta kesedihan perang. Pada akhirnya, semua akan baik-baik saja," ujar Elizabeth.
Saat berusia 16 tahun, Elizabeth mulai tampil di hadapan publik untuk pertama kalinya. tepatnya pada 1943. Saat itu ia melakukan kunjungan Pasukan Pengawal Grenadier.
Ketika akan menuju usia 18, hukum di Inggris berubah dan membuat Elizabeth dapat bertindak sebagai salah satu dari lima Konselor Negara. Ia akan mewakili ayahnya yang tidak dapat melakukan kunjungan luar negeri.
Pada 1947, Elizabeth melakukan kunjungan luar negeri pertama ke Afrika Selatan. Ia menemani orang tuanya yang sedang bertugas dalam kunjungan kenegaraan.
Elizabeth di masa kecilnya dikenal sebagai seorang gadis yang periang. Sepupu Ratu, Margaret Rhodes, mengatakan, perempuan yang dikenal dengan panggilan Lilibet oleh keluarga terdekatnya itu sangat bijaksana dan memiliki perilaku baik.
Ia menikah dengan Pangeran Philip yang memiliki darah Yunani dan Denmark pada 20 November 1947 di Westminster Abbey. Suaminya kemudian juga dinobatkan menjadi Duke of Edinburgh dengan gelar His Royal Highness.
Elizabeth mulai lebih aktif mewakili sang ayah pada 1951 seiring kesehatan Raja George VI yang terus menurun. Pada tahun tersebut, tepatnya pada Oktober, raja juga memberikan surat perintah deklarasi naik takhta untuk putrinya.
Hingga pada 6 Februari 1952, Raja George VI meninggal dunia. Sekretaris pribadi sang ayah, Martin Charteris, meminta agar Elizabeth memilih nama penyandang kekuasaan. Ia memutuskan untuk tetap menggunakan namanya tetapi ditambah menjadi Elizabeth II. Ia memiliki pendahulu yang menjadi Ratu Inggris dengan nama sama dan disebut Elizabeth I.
Elizabeth kemudian diproklamirkan sebagai ratu Inggris dan seluruh negara persemakmuran. Setelah memegang jabatan sebagai pemimpin kerajaan, ia dan suaminya mulai menempati Istana Buckingham. Upacara penobatan untuknya berlangsung pada 2 Juni 1953.
***
Pemilik Angsa di Sungai Thames
Ratu Elizabeth II merupakan seorang kepala negara Britania Raya, wilayah yang terdiri atas England, Wales, dan Skotlandia. Kekuasaan seorang ratu di negara ini menjadi yang tertinggi. Meski demikian, kekuasaannya tidak absolut dan diatur dalam Royal Prerogative.
Dalam aturan itu, ratu diberi wewenang dalam cukup banyak urusan pemerintahan negara, termasuk dalam seremonial. Di antara kewenangannya yaitu mengeluarkan dan mencabut tanda pengenal, paspor, pemecatan perdana menteri, serta deklarasi perang. Hal tersebut dapat dilakukan olehnya selama dianggap membahayakan negara dan bertentangan dengan pemimpin kerajaan.
Sebagai kepala negara, Elizabeth juga menerima gaji. Pada 2013 lalu, ia juga disebut menerima kenaikan gaji sebesar lima persen setelah properti milik Kerajaan Inggris, Crown Estate mengalami peningkatan keuntungan.
Anggaran pengeluaran untuk gaji ratu meningkat secara resmi pada 2014. Dari yang sebelumnya mendapatkan gaji sebesar 36,1 juta poundsterling atau sekitar Rp 549,6 miliar menjadi 37,89 poundsterling atau Rp 577 miliar.
Di luar jabatannya sebagai kepala negara, ada beberapa kewenangan unik yang ia miliki. Menurut Business Insider, salah satunya adalah ia memiliki semua angsa di Sungai Thames karena perairan terbuka di Inggris itu dianggap milik kerajaan.
Selain angsa, ratu juga memiliki seluruh lumba-lumba yang ada di wilayah Inggris. Dalam undang-undang statuta negara yang diterbitkan oleh Raja Edward II pada 1324, kepemilikan tersebut juga mencakup ikan kerajaan, termasuk paus, pesut, dan sturgeon. Jika ada yang mencoba menangkap ikan-ikan jenis tersebut tanpa izin kerajaan, pihak tersebut dapat dikenai hukuman.
Tahukah Anda, sang ratu memiliki surat izin mengemudi (SIM) atas namanya? Padahal, menurut Time, ia satu-satunya orang di Inggris yang secara hukum tidak perlu memerlukan SIM untuk mengemudi. Ia juga tidak perlu memasang pelat nomor di kendaraannya.
Ratu Elizabeth II adalah pengemudi yang terampil. Ia mengemudi truk pengangkut pertolongan pertama pada masa Perang Dunia II.
Pada 1998, mantan duta besar Inggris Sherard Cowper-Coles menuturkan kepada Sunday Times, sesuai protokoler, Raja Abdullah dari Yordania duduk di kursi depan Land Rover. Ia amat terkejut ketika Ratu Elizabeth II duduk di kursi pengemudi, menyalakan mobil, lalu berkeliling menunjukkan wilayahnya, Balmoral, Skotlandia.
Raja Abdullah sempat cemas karena sang ratu mengemudi di jalan sempit sambil terus bercakap-cakap. Melalui penerjemahnya, ia pun meminta sang ratu untuk tetap berkonsentrasi mengemudi.
Menjadi ratu ternyata membuatnya tak cukup dengan satu hari ulang tahun. Ratu Elizabeth II memiliki dua hari ulang tahun, yaitu 21 April dan hari ulang tahun resmi pada satu hari Sabtu pada bulan Juni. Ratu memang berbeda dengan warga biasa. Oleh Puti Almas berbagai sumber ed: Yeyen Rostiyani