Rabu 01 Jun 2011 17:13 WIB

Akbar: Golkar harus Segera Tentukan Sikap

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung mengemukakan, bila suara Golkar terus-menerus menurun sejak bergabung dengan sekretariat gabungan partai politik pendukung pemerintah, sebaiknya segera menentukan pilihan.

Mantan Ketua Umum Partai Golkar itu mengatakan, keputusan atas pilihan-pilihan itu hendaknya juga didasarkan pada aspirasi kader dan masyarakat. "Kita harus lihat dalam perjalanannya bagaimana opini masyarakat, ada trend membaik atau tidak. Kalau trend sudah tidak membaik, ada tanda-tanda, maka sudah waktunya untuk mengambil sikap," kata Akbar Tanjung.

Akbar menambahkan, stagnannya suara Golkar berdasarkan hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) harus dijadikan bahan peringatan. "Stagnannya suara Golkar berdasarkan hasil survei itu bisa dijadikan bahan masukan bagi Golkar. Bahkan bisa dijadikan bahan peringatan bagi Golkar. Untuk itu, Golkar harus mencari penyebabnya dan harus melakukan kajian terkait stagnasi tersebut," kata Akbar.

Namun ia menyatakan, tidak ada korelasi antara suara Golkar yang stagnan dengan keputusan untuk bergabung dengan setgab. "Kalau diadakan pengkajian dan kalau ada indikasi-indikasi ke arah itu, tentu akan dipikirkan apakah tetap di setgab atau tidak. Tapi semuanya itu harus berdasarkan penelitian yang objektif dan harus jadi dasar bagi Golkar untuk menentukan langkah-langkah ke depan," kata mantan Ketua DPR RI itu.

"Kalau trendnya terus menurun, tentunya Golkar yang ingin bertekad untuk menjadi pemenang tidak bisa lagi diwujudkan. Kalau trendnya terus menurun, masyarakat tentunya tidak memberikan penilaian positif kepada Golkar," ujar Akbar.

Karena itu, dia meminta kepada DPP Partai Golkar untuk tetap menjalankan fungsi-fungsi partai secara jelas, kritis dan tidak ambivalen.

sumber : antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Yuk Ngaji Hari Ini
يَسْتَفْتُوْنَكَۗ قُلِ اللّٰهُ يُفْتِيْكُمْ فِى الْكَلٰلَةِ ۗاِنِ امْرُؤٌا هَلَكَ لَيْسَ لَهٗ وَلَدٌ وَّلَهٗٓ اُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَۚ وَهُوَ يَرِثُهَآ اِنْ لَّمْ يَكُنْ لَّهَا وَلَدٌ ۚ فَاِنْ كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثٰنِ مِمَّا تَرَكَ ۗوَاِنْ كَانُوْٓا اِخْوَةً رِّجَالًا وَّنِسَاۤءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْاُنْثَيَيْنِۗ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اَنْ تَضِلُّوْا ۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ࣖ
Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah, “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu), jika seseorang mati dan dia tidak mempunyai anak tetapi mempunyai saudara perempuan, maka bagiannya (saudara perempuannya itu) seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mewarisi (seluruh harta saudara perempuan), jika dia tidak mempunyai anak. Tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki-laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sama dengan bagian dua saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, agar kamu tidak sesat. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

(QS. An-Nisa' ayat 176)

Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement