Jumat 16 Mar 2012 10:44 WIB

Kekerasan di Suriah Berlanjut, Enam Negara Teluk Tutup Kedubesnya

Rep: Amri Amrullah/ Red: Didi Purwadi
Demonstran menggelar aksi unjuk rasa di Balai Kota Paris, Paris, Kamis (15/3), untuk mendukung rakyat Suriah dalam perayaan satu tahun perlawanan mereka terhadap rezim pemerintahan Bashar al-Assad.
Foto: AP/Francois Mori
Demonstran menggelar aksi unjuk rasa di Balai Kota Paris, Paris, Kamis (15/3), untuk mendukung rakyat Suriah dalam perayaan satu tahun perlawanan mereka terhadap rezim pemerintahan Bashar al-Assad.

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH - Enam negara teluk yang tergabung dalam Dewan Kerjasama Negara Teluk (GCC) akan segera menutup kedutaan besar (kedubes) mereka di Suriah. Alasan penutupan kedubes ini adalah faktor keamanan.

Kepala Dewan Negara Teluk, Abdullatif al-Zayani, mengatakan bahwa Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Oman, Qatar dan Kuwait telah menutup kedubesnya. Penutupan ini sebagai langkah protes kepada pemerintah Suriah yang memilih opsi militer dan menolak semua inisiatif menangani kerusuhan.

Bahkan, Arab Saudi dan Bahrain telah mengumumkan penutupan kedutaan mereka di Damaskus sebelum keputusan dari GCC. Arab Saudi mengumumkan penutupan kedubesnya pada Rabu (14/3), sementara Bahrain mengikuti pada Kamis (15/3). Selain itu, enam negara anggota dewan GCC telah mengusir duta besar Suriah dari negara mereka.

Suriah telah mengalami kerusuhan berdarah antara warga sipil dan militer sejak pertengahan Maret 2011. Barat dan oposisi Suriah menyalahkan Damaskus atas gejolak politik yang tak kunjung usai selama setahun ini. Tetapi, pemerintah mengatakan 'tindakan teroris' yang telah bertanggung jawab atas kerusuhan berdarah di Suriah. Suriah menyebut tindakan teror tersebut atas dasar skenario dari luar negeri.

Presiden Suriah, Bashar al-Assad, mengatakan pada 20 Februari lalu bahwa beberapa negara asing telah sengaja memicu gejolak politik di negaranya. Negara asing tersebut dengan sengaja mendukung dan mendanai kelompok teroris bersenjata melawan pemerintah.

sumber : www.presstv.ir
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement