Ahad 25 Mar 2012 22:24 WIB

TKI: Saya Sangat Takut untuk Pulang

Hongkong
Hongkong

REPUBLIKA.CO.ID,  HONGKONG –- Endang Dwi, tenaga kerja Indonesia (TKI) di Hongkong, mengaku sangat takut untuk pulang ke Tanah Air.

“Saya sudah 12 tahun bekerja. Mohon ada bimbingan bagi yang ingin pulang,” katanya ketika berdialog dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Hongkong, seperti dilaporkan wartawan Republika, Nasihin Masha dari Hongkong, Ahad (25/3).

Dalam kunjungan dua hari di Hongkong, Presiden mengadakan dialog dengan perwakilan warga Indonesia di wilayah itu. Mereka yang hadir sekitar 120 orang yang terdiri atas TKI, mahasiswa, dan pelajar. Namun lebih dari 90 persen adalah TKI. Sebagian TKI yang tak bisa bergabung justeru melakukan unjuk rasa di luar hotel Shangrila, tempat pertemuan.

Endang, TKI asal Ponorogo, Jawa Timur, mengakui bahwa Konsulat Jenderal RI di Hongkong sudah melakukan pembinaan dengan memberikan pelatihan usaha dan bahasa. Namun ia mengaku tetap takut untuk pulang. Saat ditanya SBY, Endang menyebutkan bahwa satu anaknya kini sedang kuliah di Universitas Negeri Malang.

TKI yang lain, Ninik, juga kebetulan dari Ponorogo, mengaku sudah 10 tahun bekerja di Hongkong.  Ia juga meminta ada pelatihan agar mereka bisa memiliki daya saing dan profesional.

Menanggapi pernyataan mereka, SBY mengatakan bahwa pemerintah sedang menata dan menertibkan pengiriman TKI. Pemerintah menekankan masalah pelayanan, perlindungan, dan kesejahteraan. Selain itu juga harus menyelesaikan kasus-kasus yang menimpa TKI.

“Kita tak mungkin menjalin kerja sama dengan negara yang tak punya niat, tak melindungi, dan tak memberi kesejahteraan. Kita melakukan moratorium sampai urusannya selesai,” katanya. Pemerintah juga menekankan agar tak boleh membebani TKI. Pemerintah juga menertibkan pungli di bandara. “Para pejabat jangan diam jika ada TKI yang terkena masalah,” katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Yuk Ngaji Hari Ini
يَسْتَفْتُوْنَكَۗ قُلِ اللّٰهُ يُفْتِيْكُمْ فِى الْكَلٰلَةِ ۗاِنِ امْرُؤٌا هَلَكَ لَيْسَ لَهٗ وَلَدٌ وَّلَهٗٓ اُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَۚ وَهُوَ يَرِثُهَآ اِنْ لَّمْ يَكُنْ لَّهَا وَلَدٌ ۚ فَاِنْ كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثٰنِ مِمَّا تَرَكَ ۗوَاِنْ كَانُوْٓا اِخْوَةً رِّجَالًا وَّنِسَاۤءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْاُنْثَيَيْنِۗ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اَنْ تَضِلُّوْا ۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ࣖ
Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah, “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu), jika seseorang mati dan dia tidak mempunyai anak tetapi mempunyai saudara perempuan, maka bagiannya (saudara perempuannya itu) seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mewarisi (seluruh harta saudara perempuan), jika dia tidak mempunyai anak. Tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki-laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sama dengan bagian dua saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, agar kamu tidak sesat. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

(QS. An-Nisa' ayat 176)

Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement