REPUBLIKA.CO.ID, TUNIS – Menteri Keuangan Tunisia, Slim Besbes, mengungkapkan pemerintah akan menerbitkan obligasi syariah pada tahun 2013.
Sukuk yang diterbitkan maksimal bernilai 1 miliar dinar Tunisia atau setara dengan Rp 6,071 triliun.
Rencana sukuk ini merupakan yang pertama bagi negara yang terletak di utara Benua Afrika ini.
"Rencananya dana yang diperoleh dari penerbitan sukuk ini akan dipakai untuk mendanai proyek infrastruktur di Tunisia seperti pembangunan jalan dan rumah sakit," kata Besbes seperti dilansir laman Reuters, Senin (19/11).
Pemerintahan baru Tunisia sangat mendukung pengembangan perbankan syariah, yang sebelumnya diabaikan selama pemerintahan Ben Ali karena masalah ideologi. Penerbitan sukuk di Tunisia ini akan menjadi potensi besar bagi negara tersebut untuk menjaring dana dari investor kaya di Teluk.
Penerbitan ini bertujuan untuk memperbaiki perekonomian Tunisia pascarevolusi pemerintahan. Produksi industri dan pendapatan pariwisata mengalami pukulan keras sepanjang tahun lalu akhibat gejolak politik. Hal ini mengakibatkan anggaran pemerintah mengalami defisit.
Pemerintah berkomitmen untuk memulihkan banyak mantan tahanan untuk bekerja. "Hal ini akan membutuhkan banyak uang," kata Besbes.
Kebutuhan keuangan Tunisia akan menjadi 7 miliar dinar atau setara dengan Rp 42,5 triliun. Angka ini meningkat hampir 100 persen dari rencana pinjaman pada 2012, yaitu 4,3 miliar dinar.
Untuk memenuhi kebutuhan tahun depan, Besbes mengatakan Tunisia tengah berdiskusi dengan Bank Dunia untuk meminjam sebesar 500 juta dolar AS dan pinjaman seharga sama kepada Bank Pembangunan Afrika.