REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Irwan Kelana dari Kairo, Mesir
Banyak tantangan yang harus dihadapi para mahasiswa Indonesia yang tengah menuntut ilmu di Mesir. Namun di sisi lain, merantau ke Bumi Kinanah itu juga mempunyai daya tarik tersendiri.
“Salah satu yang paling berharga adalah bisa talaqqi atau bertemu muka langsung dengan syekh Universitas Al Azhar yang merupakan para ulama terkemuka,” kata kata Agus Susanto, mahasiswa tahun ketiga Fakultas Syariah Iislamiyah Universitas Al-Azhar asal Bengkulu, di Kairo, Mesir, pekan lalu.
Hal yang sama diungkapkan oleh Ahmad Ridwan Hamdani, mahasiswa persiapan Universitas Al Azhar asal Semarang, Jawa Tengah. “Salah satu yang saya suka selama berada di Mesir adalah banyak ilmu yang bisa diambil, antara lain melalui talaqqi kepada para syekh. Baik di rumah, masjid, maupun kelas. Biasanya untuk mengambil sanad ilmu yang menyambung hingga ke Rasulullah, sehingga lebih membekas dan merasa nyaman ketika menyampaikan ilmu tersebut kepada orang lain,” tutur Hamdani.
Di samping itu, kata Agus, di Mesir banyak ladang ilmu. “Harga buku di Mesir sangat murah. Misalnya di Indonesia harga buku bisa ratusan ribu rupiah, di sini hanya belasan ribu atau puluhan ribu saja,” tutur Agus yang juga Pengurus Harian Pusat Organisasi Pelajar Mahasiswa Indonesia di Mesir (PPMI) itu.
Setiap tahun, Mesir menggelar pameran buku bertajuk Cairo International Book Fair. Pameran tersebut diklaim nomor satu di Afrika, dan terbesar kedua di dunia setelah pameran buku Frankfurt (Jerman). Buku-buku yang dipamerkan tidak hanya berbahasa Arab, tapi juga bahasa Inggris, bahasa Turki dan lainnya. “Pada expo tersebut, harga buku lebih murah lagi,” ujar Agus.
Selain itu, Mesir sangat kaya dengan obyek wisata, terutama wisata sejarah. “Karena saya juga menyukai dunia fotografi, maka keberadaan berbagai obyek wisata sejarah di Mesir sangat menarik,” kata Hamdani.
Lelaki yang punya hobi fotografi itu mengaku sangat menyukai kuliner di Mesir. Misalnya, ayam bakar Mesir yang sangat terkenal di Abbasiyah, kebab, sandwich, dan kibdah (hati sapi yang sudah diolah kemudian dimasukkan ke dalam roti isy atau roti vino khas Mesir).
Di samping itu, minuman jus (ashir) khas Mesir, seperti mangga, tebu, alpukat, jeruk, dan strawberry. “Harganya bervariasi, dari satu hingga empat pound Egypt (sekitar Rp 1.500 sampai Rp 6.000) per gelas, sehingga terjangkau oleh kantong mahasiswa. Pulang kuliah atau selesai melakukan kegiatan, minum ashir mangga, rasanya sangat menyenangkan,” tutur Hamdani.
Agus menambahkan, harga buah di Mesir relatif murah bila dibandingkan dengan Indonesia. Apalagi kalau musim panen, harganya lebih murah lagi. “Pada musim panen, harga anggur hanya 2-5 pound (sekitar Rp 3.000 hingga Rp 7.500) per kilogram. Demikian pula buah lain, seperti apel,” tutur Agus.
Hamdani menambahkan, di Mesir banyak kegiatan mahasiswa yang sangat bermanfaat. Antara lain pelatihan, baik menulis, fotografi, broadcasting, sehingga mahasiswa mendapatkan ilmu tambahan untuk menambah skill.
“Salah satunya yang terbaru adalah Semesta Menulis yang merupakan pelatihan jurnalistik, menulis fiksi dan broadcasting yang diisi oleh redaktur senior harian Republika Irwan Kelana, sastrawati terkemuka Pipiet Senja dan Sasri Bakry, dan para petinggi dari RRI,” katanya.