Ahad 08 Jun 2014 11:43 WIB

Membedah Fikih Zakat Indonesia (4-habis)

Fikih zakat.
Foto: Blogspot.com
Fikih zakat.

Oleh: Laily Dwi Arsyianti*

Ada 4 tipologi, yaitu kaum dhuafa yang memiliki cukup kemauan dan kemampuan untuk mau berubah (Tipe 1), kaum dhuafa yang kurang memiliki kemauan tapi cukup kemampuan (Tipe 2), kaum dhuafa yang memiliki cukup kemauan tapi ku rang kemampuan (Tipe 3), dan kaum dhuafa yang kemauan dan ke mampuannya kurang (Tipe 4).

Tipe I, pemberdayaan dhuafa dibutuhkan untuk mengembangkan usaha sehingga mampu keluar dari garis kemiskinan. Sementara ketiga tipe lain harus ditransformasi terlebih dahulu menjadi tipe I.

Saat ini, keberadaan program zakat diyakini mampu mempercepat upaya pengentasan kemiskinan mustahik dari 7 tahun menjadi 5,1 tahun.

Dalam buku ini juga diyakinkan perbedaan antara lembaga keuangan syariah dengan lembaga pengelola zakat yang berlaku di masyarakat saat ini. Pertama, dari segi orientasi profit-sosial. Kedua, proses yang dijalankan bisnis-pemberdayaan.

Ketiga, indikator perkembangan antara pertumbuhan aset-jumlah penerima manfaat. Keempat, antara good corporate governance dengan good amil governance. Buku ini juga meyakinkan pembacanya bahwa zakat akan menumbuhkan sikap empati dan solidaritas yang kuat di tengah krisis sosial yang berkembang saat ini.

Zakat yang mampu menumbuhkan ketenteraman dan keamanan sosial akan tercipta jika mekanisme sharing dari kelompok surplus kepada kelompok defisit berjalan dengan baik. Termasuk dibahas dalam buku ini adalah hubungan antara zakat dan pajak. Dengan demikian, dibutuhkan sistem pengelolaan zakat yang kokoh.

Terakhir, sebagai fenomena kebangkitan umat, pengelolaan zakat perlu menerapkan prinsip-prinsip syariah dan kemaslahatan umat, se hingga amil harus taat pada kaidah syariah. Dengan demikian, integritas organisasi pengelola zakat dapat ditegakkan dan kepercayaan masyarakat dapat tumbuh. Wallahu a’lam.

*Dosen Prodi Ekonomi Syariah FEM IPB

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Yuk Ngaji Hari Ini
وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اَرِنِيْ كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتٰىۗ قَالَ اَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۗقَالَ بَلٰى وَلٰكِنْ لِّيَطْمَىِٕنَّ قَلْبِيْ ۗقَالَ فَخُذْ اَرْبَعَةً مِّنَ الطَّيْرِفَصُرْهُنَّ اِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلٰى كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِيْنَكَ سَعْيًا ۗوَاعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌحَكِيْمٌ ࣖ
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah berfirman, “Belum percayakah engkau?” Dia (Ibrahim) menjawab, “Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap).” Dia (Allah) berfirman, “Kalau begitu ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah olehmu kemudian letakkan di atas masing-masing bukit satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.

(QS. Al-Baqarah ayat 260)

Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement