Rabu 17 Jun 2015 08:22 WIB

Kiai Hudrin Sarankan Tarekat Naqshbandiyah Ikut Pelatihan Rukyat

Rep: C08/ Red: Erik Purnama Putra
Penganut Tarekat Naqsabandiyah di Padang.
Foto: Antara
Penganut Tarekat Naqsabandiyah di Padang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Kepala Jakarta Islamic Centre KH Hudrin Hasbullah mengaku heran dengan metode yang digunakan Tarekat Naqsbandiyah di Padang, Sumatra Barat karena memulai 1 Ramadhan dua hari lebih awal dari yang ditetapkan pemerintah dan ormas Islam.

Tarekat Naqsabandiyah diketahui memulai 1 Ramadhan sejak Selasa (16/6). Sementara pemerintah dan ormasIslam serentak telah menetapkan Ramadhan pada Kamis (18/6).

"Saya heran dengan metode yang digunakan teman-teman (Tarekat) Naqsabandiyah. Kok bisa dua hari selisihnya," kata Kiai Hudrin kepada Republika di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, Rabu (17/6).

Kiai Hudrin menyebut tidak tahu secara persis seperti apa metode yang digunakan Tarekat Naqsabandiyah. Ia pun enggan mengatakan metode yang digunakan Takrekat Naqshbandiyah salah. Tetapi, ia menyarankan agar kelompok tersebut mengevaluasi metode penentuan kalender agar tidak punya perbedaan terlalu mencolok dari penanggalan yang ditetapkan secara umum

Dia juga menyarankan agar Tarekat Naqsabandiyah melakukan pelatihan rukyat mengenai cara melihat hilal dengan ilmu falak yang benar sesuai anjuran Nabi Muhammad SAW yang juga sesuai dengan metode ilmu pengetahuan yang sekarang.

"Mungkin mereka masih menggunakan cara lokal dalam merukyat. Kita enggak mengatakan mereka salah, tapi sesama umat Islam kita harus saling mengingatkan," ujar Kiai Hudrin.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Yuk Ngaji Hari Ini
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِۗ وَاِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْاۗ وَاِنْ كُنْتُمْ مَّرْضٰٓى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَاۤءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَاۤىِٕطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَاۤءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَاۤءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَيْدِيْكُمْ مِّنْهُ ۗمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْ حَرَجٍ وَّلٰكِنْ يُّرِيْدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur.

(QS. Al-Ma'idah ayat 6)

Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement