Senin 20 Jun 2016 16:43 WIB

Ini Reaksi Jokowi Atas Penembakan Nelayan Cina

Rep: Halimatus Sa'diyah/ Red: Teguh Firmansyah
Presiden Joko Widodo
Foto: Reuters/Darren Whiteside
Presiden Joko Widodo

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah Cina menuding Indonesia melakukan penembakan terhadap nelayan mereka di perairan Natuna. Menanggapi hal tersebut, Staf Khusus Presiden bidang Komunikasi Johan Budi Sapto Pribowo mengatakan bahwa Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan untuk menomorsatukan kedaulatan negara dalam menyelesaikan kasus tersebut.

"Pada intinya Presiden memerintahkan untuk mempertahankan kedaulatan wilayah RI," ujarnya kepada wartawan di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (20/6).

Namun, sambung Johan, Presiden juga berpesan agar pemerintah tetap menjaga hubungan baik dengan Cina. Sebab, kedua negara telah memiliki hubungan diplomatik yang erat sejak lama.

Baca juga, Indonesia Protes Kemunculan Kapal Cina di Laut Natuna.

Johan menyebut, pemerintah menganggap insiden penembakan nelayan baru klaim sepihak dari Cina. Sebab, Indonesia belum mengetahui secara persis seperti apa kejadian yang sebenarnya. "Kejadiannya seperti apa, ya, kita perlu dengar juga dari versi kita kan?" ucap Johan.

Seperti diketahui, Cina menyebut TNI AL telah melakukan penembakan kepada kapal nelayan mereka yang sedang berlayar di perairan Natuna. Pemerintah Cina secara resmi telah melayangkan surat protesnya atas insiden itu.

Sementara, Indonesia sendiri berkeyakinan nelayan Cina telah mencuri ikan di perairan Indonesia. Pemerintah menolak mengakui adanya zona tangkap tradisional seperti yang disebut Negeri Tirai Bambu tersebut.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Yuk Ngaji Hari Ini
يَسْتَفْتُوْنَكَۗ قُلِ اللّٰهُ يُفْتِيْكُمْ فِى الْكَلٰلَةِ ۗاِنِ امْرُؤٌا هَلَكَ لَيْسَ لَهٗ وَلَدٌ وَّلَهٗٓ اُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَۚ وَهُوَ يَرِثُهَآ اِنْ لَّمْ يَكُنْ لَّهَا وَلَدٌ ۚ فَاِنْ كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثٰنِ مِمَّا تَرَكَ ۗوَاِنْ كَانُوْٓا اِخْوَةً رِّجَالًا وَّنِسَاۤءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْاُنْثَيَيْنِۗ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اَنْ تَضِلُّوْا ۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ࣖ
Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah, “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu), jika seseorang mati dan dia tidak mempunyai anak tetapi mempunyai saudara perempuan, maka bagiannya (saudara perempuannya itu) seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mewarisi (seluruh harta saudara perempuan), jika dia tidak mempunyai anak. Tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki-laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sama dengan bagian dua saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, agar kamu tidak sesat. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

(QS. An-Nisa' ayat 176)

Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement