Ahad 20 May 2018 16:23 WIB

Uni Eropa akan Intensifkan Perdagangan dengan Iran

Negara anggota Uni Eropa bertekad mempertahankan kesepakatan nuklir Iran

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nidia Zuraya
Proyek reaktor nuklir Arak di Iran.
Foto: Reuters/ISNA/Hamid Forootan/Files
Proyek reaktor nuklir Arak di Iran.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Uni Eropa (UE) akan berupaya mengintensifkan kerja sama perdagangan negara anggotanya dengan Iran. Hal ini dilakukan agar Iran tetap bersedia bertahan dalam kesepakatan nuklir atau dikenal dengan istilah Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).

"Kami telah mengirim pesan kepada teman-teman Iran kami bahwa selama mereka berpegang pada kesepakatan (nuklir), negara-negara Eropa akan memenuhi komitmen mereka. Kami akan mencoba mengintensifkan arus perdagangan kami yang positif bagi ekonomi Iran," ungkap Komisioner Uni Eropa untuk Energi dan Iklim Miguel Arias Canete ketika melakukan kunjungan ke Teheran pada Sabtu (19/5), dikutip laman the Independent.

Menurut Canete, Iran pun menyepakati dan berkomitmen untuk melakukan hal yang sama. Kepala Organisasi Energi Atom Iran Ali Akbar Salehi mengatakan dirinya berharap Uni Eropa dapat menyelamatkan kesepakatan nuklir Iran pascahengkanya Amerika Serikat (AS).

"Kami berharap upaya mereka terwujud. Tindakan Amerika menunjukkan bahwa mereka bukan negara terpercaya dalam transaksi internasional," kata Salehi dalam konferensi pers gabungan di Teheran.

Pada 8 Mei lalu, Presiden AS Donald Trump memutuskan menarik negaranya dari kesepakatan nuklir Iran. Trump menganggap kesepakatan tersebut cacat karena memberi ruang bagi Iran untuk mengembangkan rudal balistiknya.

Dengan penarikan tersebut, AS memutuskan untuk kembali menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Iran. Tak hanya itu, AS pun siap memberikan sanksi kepada negara atau perusahaan yang menjalin kerja sama bisnis dengan Teheran.

Pemerintah Iran mengecam keputusan AS. Teheran menilai sanksi baru yang dijatuhkan AS terhadapnya merupakan sebuah upaya untuk menggagalkan usaha mempertahankan kesepakatan nuklir. Iran pun mengancam akan meningkatkan program nuklirnya ke level yang lebih tinggi dibanding sebelumnya jika Eropa gagal mempertahankan eksistensi kesepakatan nuklir.

Kendati demikian, Uni Eropa, bersama Inggris, Prancis, dan Jerman telah bertekad untuk mempertahankan kesepakatan nuklir Iran. Mereka meyakinkan bahwa aktivitas perekonomian antara Iran dengan Eropa akan tetap berjalan, walaupun berada di bawah bayang-bayang sanksi AS.

Kesepakatan nuklir Iran ditandatangani Iran bersama Prancis, Inggris, AS, Jerman, Cina, Rusia, dan Uni Eropa pada Oktober 2015. Kesepakatan ini mulai berlaku atau dilaksanakan pada 2016.

Kesepakatan ini tercapai melalui negosiasi yang cukup panjang dan alot. Tujuan utama dari kesepakatan ini adalah memastikan bahwa penggunaan nuklir oleh Iran hanya terbatas untuk kepentingan sipil, bukan militer. Sebagai imbalannya, sanksi ekonomi dan embargo yang dijatuhkan terhadap Teheran akan dicabut.

Namun Trump telah berkali-kali menyatakan ketidakpuasannya terhadap kesepakatan ini. Hal ini karena dalam kesepakatan tersebut tak dibahas perihal program rudal balistik Iran, kegiatan nuklirnya selepas 2025, dan perannya dalam konflik Yaman serta Suriah. Ini menjadi alasannya menarik AS dari kesepakatan tersebut.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement