Selasa 03 Jul 2018 12:51 WIB

Tim SAR Berkemas Tinggalkan Tigaras

SAR Posko Parapat masih akan memantau permukaan Danau Toba.

Red: Indira Rezkisari
Keluarga korban tenggelamnya KM Sinar Bangun memanjatkan doa dalam prosesi tabur bunga di kawasan titik tenggelamnya kapal di Danau Toba, Sumatera Utara, Senin (2/7).
Foto: Antara/Sigid Kurniawan
Keluarga korban tenggelamnya KM Sinar Bangun memanjatkan doa dalam prosesi tabur bunga di kawasan titik tenggelamnya kapal di Danau Toba, Sumatera Utara, Senin (2/7).

REPUBLIKA.CO.ID, SIMALUNGUN -- Tim SAR memulai berkemas-kemas meninggalkan kawasan Tigaras, Kabupaten Simalungun, Sumatra Utara. Mulai hari pemerintah telah menetapkan pencarian KM Sinar Bangun yang tenggelam di perairan Danau Toba diakhiri.

Di Simalungun, sejak Selasa (3/7) pagi, terlihat personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara mulai mengangkut perahu karetnya dari perairan Danau Toba dan dinaikkan ke truk. Namun di Pelabuhan Tigaras yang menjadi posko utama pencarian belum terlalu menonjol aksi berkemasnya karena masih menggelar doa bersama, tabur bunga, dan peletakan batu pertama pembangunan monumen KM Sinar Bangun.

Kepala Kantor SAR Medan, Budiawan menyebutkan dari pertemuan yang difasilitasi Pemkab Simalungun pada Ahad (1/7), keluarga korban sudah mengikhlaskan pemberhentian proses pencarian tersebut. Namun, tambahnya penutupan proses pencarian KM Sinar Bangun tersebut hanya untuk operasi di tingkat nasional. Sedangkan untuk tingkat lokal, proses pencarian masih tetap dilakukan dengan pemantauan secara berkesinambungan terhadap perairan Danau Toba.

SAR Posko Parapat akan terus memantau permukaan Danau Toba guna mengetahui kemungkinan adanya jasad penumpang KM Sinar Bangun yang muncul ke permukaan. "Ada kapal 412 dan LCR yang terus melakukan patroli," katanya. Jika menemukan adanya jasad yang muncul ke permukaan atau informasi dari masyarakat, personel SAR akan turun ke lokasi untuk melakukan evakuasi.