Ahad 19 Apr 2020 18:04 WIB

Unjuk Rasa Buruh Dikhawatikan tak Patuhi Protokol Kesehatan

bBuruh dalam jumlah masif bakal susah mengikuti pedoman kesehatan pencegahan corona.

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Andi Nur Aminah
Direktur Indonesia Publik Institute Karyono Wibowo (kanan)
Foto: Republika/ Tahta Aidilla
Direktur Indonesia Publik Institute Karyono Wibowo (kanan)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat politik Karyono Wibowo mengkhawatirkan penyebaran corona dalam rencana aksi buruh menentang RUU Cipta Kerja pada akhir April. Ia meragukan buruh dalam jumlah masif bakal mengikuti pedoman kesehatan pencegahan corona.

Karyono menilai rencana aksi buruh karena terprovokasi sikap DPR yang masih memaksakan membahas RUU Cipta Kerja di tengah pandemi COVID-19. Pasalnya, RUU Omnibuslaw Cipta Kerja tersebut masih kontroversi.

Baca Juga

KSPI sempat berjanji rencana unjuk rasa akan tetap mengikuti aturan social distancing atau physical distancing dengan tetap menjaga jarak peserta. Termasuk memakai masker, dan membawa hand sanitizer. "Bisa diprediksi hal itu sulit untuk dipraktekkan secara disiplin, apalagi dalam jumlah massa yang besar," kata Karyono dalam siaran pers, Ahad (19/4).

Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute (IPI) itu juga memperkirakan ada peluang benturan dengan aparat keamanan jika unjuk rasa berujung rusuh. "Ada potensi benturan antara pihak pengunjuk rasa dengan pihak aparat keamanan sangat mungkin terjadi. Hal ini bisa berpotensi menimbulkan kerusuhan yang lebih luas di tengah frustasi sosial akibat wabah Covid-19," lanjut Karyono.

Walau demikian, Karyono menghargai perjuangan buruh dalam menuntut hak-haknya. Menurutnya, kepentingan kaum buruh harus dilindungi, termasuk hak untuk menyampaikan pendapat. Tetapi dalam pandemi global Covid-19 justru dibutuhkan peran semua komponen bangsa termasuk kalangan buruh untuk bersama memutus rantai penyebaran corona.

Menurut Karyono, diperlukan kearifan organisasi buruh guna menahan diri sejenak dengan tidak melakukan aksi turun ke jalan. Dalam situasi ini organisasi buruh ditantang mencari alternatif menyampaikan aspirasi tanpa mengurangi substansi.

"Dalam situasi pandemi global saat ini dibutuhkan kearifan dan semangat gotong-royong dari semua pihak untuk menjaga stabilitas nasional," ucap Karyono.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Yuk Ngaji Hari Ini
سَيَقُوْلُ الْمُخَلَّفُوْنَ اِذَا انْطَلَقْتُمْ اِلٰى مَغَانِمَ لِتَأْخُذُوْهَا ذَرُوْنَا نَتَّبِعْكُمْ ۚ يُرِيْدُوْنَ اَنْ يُّبَدِّلُوْا كَلٰمَ اللّٰهِ ۗ قُلْ لَّنْ تَتَّبِعُوْنَا كَذٰلِكُمْ قَالَ اللّٰهُ مِنْ قَبْلُ ۖفَسَيَقُوْلُوْنَ بَلْ تَحْسُدُوْنَنَا ۗ بَلْ كَانُوْا لَا يَفْقَهُوْنَ اِلَّا قَلِيْلًا
Apabila kamu berangkat untuk mengambil barang rampasan, orang-orang Badui yang tertinggal itu akan berkata, “Biarkanlah kami mengikuti kamu.” Mereka hendak mengubah janji Allah. Katakanlah, “Kamu sekali-kali tidak (boleh) mengikuti kami. Demikianlah yang telah ditetapkan Allah sejak semula.” Maka mereka akan berkata, “Sebenarnya kamu dengki kepada kami.” Padahal mereka tidak mengerti melainkan sedikit sekali.

(QS. Al-Fath ayat 15)

Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement